November 18, 2010

Tak seperti merpati, Bakrie Life selalu ingkar janji

JAKARTA. Asuransi Jiwa Bakrie (Bakrie Life) agaknya harus belajar kepada merpati, yang tak pernah ingkar janji. Maklum, kebiasaan menunggak pembayaran cicilan dana nasabah produk asuransi berbalut investasi Diamond Investa tampaknya sudah akut.

Yang terbaru, Bakrie Life belum juga membayar cicilan pokok ketiga (per September 2010) dan bunga sejak Juli hingga Oktober 2010. "Bakrie Life selalu terlambat bayar," keluh Anggota Tim Penyelamatan dan Pengembalian Dana Nasabah (TP2DN) Bakrie Life Freddy Koeshariono, Selasa (16/11).

Cicilan ketiga atau per September 2010 sebesar 6,25% dari dana setiap nasabah Danamond Investa. Ditambah bunga Juli hingga Oktober, diperkirakan total tunggakan Bakrie Life Rp 33 miliar.

Sebelumnya, pertengahan Oktober 2010 lalu, Bakrie Life sempat menyelesaikan kewajiban sebesar Rp 30 miliar. Namun pembayaran cicilan tersebut tidak berlanjut.

Lagi-lagi para nasabah hanya bisa pasrah seraya berharap Bakrie Life memiliki niat baik menyelesaikan masalah. "Padahal, restrukturisasi pembayaran ini merugikan kami, karena menurunkan manfaat bunga dari 13% menjadi 9,5%,” kata Freddy.

Menurut Anggota TP2DN Bakrie Life Yoseph, kewajiban Bakrie Life yang tersisa masih Rp 290 miliar kepada 250 orang nasabah Danamond Investa dengan nilai investasi di atas Rp 200 juta.

Sebelumnya, Kepala Biro Perasuransian Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan(Bapepam-LK) Isa Rachmatarwata mengatakan, Bakrie Life terlambat membayar cicilan karena belum mendapatkan dana. Menurut Isa, Bapepam-LK sudah melayangkan surat teguran ke manajemen Bakrie Life.

Direktur Utama Bakrie Life Timoer Soetanto menyatakan, Bakrie Lilfe berjanji akan menyelesaikan kewajibannya. “Keterlambatan kali ini terjadi karena dananya masih diusahakan. Mudah-mudahan tidak lama lagi,” kata Timoer kepada KONTAN melalui pesan singkat.

Sekadar mengingatkan, Bakrie Life gagal bayar atas produk Diamond Investa sebesar Rp 360 miliar. Sesuai Surat Kesepakatan Bersama, Bakrie Life menawarkan skema pengembalian dana dengan mencicil, yakni 25% di 2010, dibayar empat kali setiap akhir triwulan sebesar 6,25% dari dana nasabah. Sebesar 25% dilunasi pada 2011 dengan mekanisme serupa. Pembayaran terakhir sebanyak 50% di tahun 2012.

Seperti dikutip dari situs resmi www.kontan.co.id tertanggal 18 November 2011 : http://keuangan.kontan.co.id/v2/read/keuangan/52610/Tak-seperti-merpati-Bakrie-Life-selalu-ingkar-janji

Sweats the small stuff (nasihat bijak si pemalas)

Mendengar judul tulisan ini, mungkin kalian akan berpikir, mengerikan untuk membesar-besarkan hal kecil. Well, sometimes it is work. Maksud saya, tidak ada salahnya kan melihat hal kecil dari kacamata besar. Karena, hal kecil yang mungkin tercecer, kadang memberikan kebahagiaan. You'll never know.


Saya telah melampaui seperempat abad hidup di bawah bayang-bayang orangtua. Akhir tahun lalu tepatnya, saya memutuskan menjadi anak kos. Banyak hal yang hilang, tentunya. Taruhlah, saya tidak bisa seenaknya berganti-ganti pakaian atau boros menggunakan gelas. Saya juga harus menyediakan waktu untuk melakukan pekerjaan rumah, mencuci atau berbenah misalnya. Huf, melayani diri sendiri adalah makanan saya hari-hari belakangan ini. Tidak hanya itu, saya juga harus menyisihkan seperlima dari penghasilan saya setiap bulannya sebagai jurnalis untuk membayar ongkos sewa kamar kos. Belum lagi, memenuhi kebutuhan bulanan untuk perut buncit saya, termasuk ongkos ngebir dua kali dalam sepekan dan mengunjungi rumah kecantikan. Ya, begitulah harga sebuah eksistensi. Tak heran, sepekan jelang hari gajian saya harus menahan liur acap kali melewati kedai es krim favorit.


Tetapi, saya juga tidak bisa menafikan, ada banyak hal yang saya dapatkan. Privasi dan kebebasan. Saya sih tidak tahu apa lagi hal yang lebih menyenangkan dari memiliki privasi dan kebebasan, selain mewujudkan impian meniduri aktor papan atas Hollywood, seperti Adam Broddy, Channing Tatum, atau Paul Walker, tentunya? Bayangkan, kau bisa bertelanjang di atas tempat tidurmu sendiri tanpa khawatir seseorang akan terkaget-kaget saat membangunkanmu di pagi buta. Atau menangis semalaman setelah melihat pria yang kau cintai mengencani wanita yang jauh lebih cantik darimu. It's privacy! Kau juga tidak perlu lagi mengendap-endap masuk lewat pintu belakang rumahmu saat pulang dalam keadaan mabuk. Dan, kau mendapatkan kebebasan untuk menghisap ganja dan menonton aksi lucu Eddie Murphy setelahnya hingga terkencing-kencing.


I've got it all!


Saya menikmati hidup saya. Sungguh. Saya tidak menyangka, berdiam diri di kamar kos seharian hanya dengan mendengarkan daftar lagu favoritmu dengan kualitas suara headset yang oke sambil menyantap semangkuk koko crunch akan se-menyenangkan ini. Saya tidak menyangka, saya mendapatkan hak untuk tidak mandi di hari libur, merokok dalam posisi tidur, memutar empat judul film tanpa henti untuk ditonton semalam suntuk, menulis jurnal tanpa lampu baca, dan tidak ada yang menertawakan wajah tersipu malu saat membayangkan pria incaranmu bertelanjang dada. It's just awesome. Kau hanya menjadi dirimu sendiri tanpa mendengar ocehan yang sama setiap harinya dari wanita tua yang kau cintai saat memperingatimu, "berapa usiamu sekarang, nak?"


Saya menikmati hidup dari balik koran yang dibaca para penggila bisnis dan investasi. Saya menikmati malam-malam melelahkan yang saya habiskan bersama teman-teman fotografer dan komunitas vespa. Saya menikmati mentari sore dengan mengendarai rongsokan tua buatan tahun 1966 milik saya. Saya menikmati sindiran reporter "bau kencur" tentang tulisan ringan saya di situs jejaring sosial (anggap saja, dia hanya iri). Saya menikmati peran saya sebagai pengantar biskuit, masker, atau pakaian dalam ke daerah bencana. Saya menikmati (tidak benar-benar menikmati sih jelang PMS/pre menstruation syndrom) status lajang ini. Well, setidaknya saya tidak bermuram durja seperti penjudi yang kehilangan koin-koin emasnya.

November 10, 2010

Amuk Gunung Merapi, Nyuwun Pangapunten Dumateng Gusti

Sabtu, 6 November 2010, pukul 12.15 WIB saya tiba di Yogyakarta. Kota yang dikenal sebagai gudangnya pelajar ini mendadak berubah menjadi kota penuh debu. Ya, debu vulkanik yang dimuntahkan Gunung Merapi. Persis seperti yang disiarkan di stasiun televisi nasional: hujan debu dengan jarak pandang tidak lebih dari 10 meter.
Ah, saya hanya tidak menyangka saya berada di kota ini, begini. Sedih! Secara pribadi, bagi saya, kota ini menyimpan banyak kenangan. Termasuk, makanan istimewa tentunya. Tetapi, hari ini, saya kira, Yogyakarta hanya akan menyimpan airmata dari ribuan bahkan belasan ribu pengungsi yang terkena dampak amukan Gunung Merapi, isak tangis keluarga yang ditinggal mati korban “wedhus gembel”, dan kotak-kotak tanda simpati dari berbagai kalangan, termasuk dari teman-teman saya di Jakarta.
Sepiring nasi pecel sudah di hadapan saya. Bersama teman-teman dari Jakarta, yakni Eva, Kristina, Opik, dan Ardiles, kami menyantap makan siang di rumah makan sederhana-plus debu tentunya yang terletak di belakang Universitas Gajah Mada (UGM). Enak! Seperti biasanya, makanan yang disajikan di Yogyakarta selalu enak bagi lidah saya. Hanya, saya semakin tidak sabar bermandi hujan debu, berkeliling Yogyakarta.
Koordinasi kami, saya dan teman-teman dari Jakarta memang agak berantakan. Parahnya, kepanikan sudah meremas-remas kepala saya sejak malam keberangkatan. Adalah Kristina yang sama hebohnya dengan saya, dan Eva yang kelewat cuek. Beruntung dua jagoan kami, Opik dan Ardiles bisa diandalkan, menjadi penasehat sekaligus teman semalam suntuk menyetir hampir 12 jam.
Kami melintasi jalan raya Kaliurang (begitu papan jalan yang saya baca ketika melintas) menuju Muntilan, lalu Magelang. Pemetaan lokasi saya buruk, maaf, tapi saya memang membaca beberapa nama wilayah seperti; Mungkid, Muntilan, Magelang. Dan, seperti yang saya bayangkan, hujan debu di lokasi ini lebih lebat daripada Yogyakarta. Gumpalan putih di udara, debu setebal 10 sentimeter yang lengket dengan aspal, dan saya pun terbatuk-batuk setelah lupa menggunakan masker.
Keren!
Selama ini, pemandangan seperti ini cuma bisa saya saksikan di televisi dengan bayang-bayang reporter gagap plus heboh. Serius. Pemandangan langka ini merupakan kali pertama saya berada di daerah bencana, dengan bumbu haru dan bulu kuduk yang tak berhenti berdiri. Kalau pun saya mengabadikan momen di sela-sela kesibukan para pengungsi, dan relawan, semata-mata saya ingin mengabadikan “unhappy moment” ini. So, don’t get offended ya!
Beberapa wilayah yang saya lintasi tampak seperti kota mati. Candi mendut yang baru seumur hidup saya lihat itu tertutup debu putih. Di sepanjang jalan, di kiri dan kanan bahu jalan tepatnya, terpampang jelas pohon-pohon yang kuncup persis payung dalam posisi tertutup, beberapa tanaman mati, dan bangunan rusak, dan aspal jalannya persis arena meluncur-salju di Mal Taman Anggrek.
Di satu titik wilayah di Mungkid, teman saya-Kristina menyebutnya white christmas. Tidak salah! Kota dan seluruh pohon kuncupnya berbalut debu putih-tebal, listrik padam, sepi (karena keramaian hanya berpusat di posko-posko pengungsian) persis seperti menyaksikan kesedihan Ally McBeal melewati malam natal seorang diri.
Di salahsatu posko pengungsian, saya duduk di antara para pengungsi lansia. Mereka menghujani saya dengan pertanyaan, termasuk memaksa saya untuk mendengar pengalaman pahit mereka diusir Gunung Merapi. Saya sabar, mungkin pura-pura sabar. Maklum, 7 jam berdongeng selama Ardiles menyetir, dan 5 jam kemudian gantian saya yang menyetir, saya belum juga merebahkan tubuh barang 10 menit.
Dari satu posko pengungsian ke satu posko pengungsian lainnya, ternyata, adalah pekerjaan berat! Tenggorokan saya mulai terasa kering, dada saya sesak, sepertinya saya menghisap debu vulkanik. Kaki, tubuh, tangan, punggung, semuanya terasa ambruk. Tak heran, saya sempat terlelap pulas sepanjang perjalanan pulang dari posko terakhir menuju penginapan.
Ah, bahkan, Tjokorda (suami Happy Salma) yang rupawan sekalipun, saya kira, tidak mampu meredam keinginan saya untuk istirahat malam itu.
*****
Keesokan harinya, Minggu, 7 November 2001. Saya masih harus menyempatkan diri menyelesaikan kewajiban saya, menulis berita, sebelum bertolak kembali ke Jakarta. Saya duduk di teras depan, cafĂ© tempat penginapan. Saya memandang laptop-pinjaman dan telepon genggam di hadapan saya, sembari menyeruput cokelat panas dan menghisap rokok, saya berpikir, Yogyakarta sekali lagi menyita perhatian kita semua. “Nyuwun pangapunten dumateng gusti”.


Sekapur Sirih. Ikhlas untuk saudara-saudara di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Tetap semangat untuk relawan-relawan. Doa kami bersama kalian.

Marzuki Alie, Riwayatmu Kini

Sontak, saya kaget melihat salahsatu berita di situs www.kompas.com bertajuk “Pindah Saja ke Daratan.” Ketua DPR Marzuki Alie selaku narasumber, secara eksplisit menyebut, bencana gempa yang diikuti dengan tsunami merupakan konsekuensi warga yang tinggal di daerah kepulauan. Dalam cerita ini, tentu yang saya maksud adalah bencana gempa-tsunami di Pulau Pagai, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, 25 Oktober 2010 lalu.
Marzuki Alie, kader dari partai penguasa, yakni Partai Demokrat, sebelumnya duduk sebagai Sekretaris Jenderal Partai Demokrat. Tak lama setelah itu, dia diberikan mandat sebagai Ketua DPR periode 2009-2014 persis setelah kemenangan pasangan Susilo Bambang Yudhoyono dan Boediono sebagai presiden dan wakil presiden.
Saya ingat proses pencalonan Marzuki Alie dari Sekjend Partai Demokrat menjadi Ketua DPR. Dia bersaing dengan rekan-rekannya sesama warga biru. Saya menulis berita tersebut ketika saya masih bercokol dengan berita-berita politik. Dia sempat melontarkan kemarahannya pada saya, bahkan meminta klarifikasi dengan berita yang dimuat di halaman dua Harian Umum Suara Pembaruan ketika itu.
Hampir satu tahun (kalau saya tidak salah hitung) Marzuki Alie menjabat sebagai Ketua DPR, rasa-rasanya, pernyataan pria berusia 54 tahun ini dalam merespon isu acap kali menuai kritik. Ucapan yang dilontarkannya tidak lazim, terkesan sulit berempati.
Yang terbaru, terkait musibah gempa-tsunami, Marzuki bertutur, “Mentawai itu jauh, itu pulau, kalau disapu tsunami, itu risiko kita yang tinggal di pulau,” katanya.
Jika tinggal di Mentawai, Marzuki melanjutkan, meski ada peringatan dini (early warning) atas kejadian gempa maupun tsunami dua jam sebelum kejadian, dipastikan tidak bisa keluar dari musibah. “Kalau tinggal di pulau itu, kalau sudah tahu dipandang berisiko, ya pindah saja,” cetusnya.
Nah, kemarin (27/10), di press room Kementerian Keuangan, saya dan beberapa teman media mendiskusikan pernyataan Marzuki Alie tersebut. Saya dan beberapa teman menyayangkan, ucapan tidak lazim yang keluar dari mulut Ketua DPR. Saya sempat mendorong Agust, salahsatu teman, untuk mengirimkan pesan singkat ke nomor pribadi sang Ketua DPR. Berikut kutipannya (asli loh):

Agust: “Tsunami itu konsekuensi warga yang tinggal di pulau,” bacot lo jaga ye. Pikir pake otak klo mo ngomong, malu ama titel lo.

Marzuki Alie : Kalau marah klarifikasi dulu, jadi  marah dg orang yg tepat. Saya sdh marah dg wartawannya, dia sengaja memelintir berita, insya'allah saya tdk segoblok yg anda katakan. Saya menyarankan klo tdk ada tempat utk menyelamatkan diri, walaupun ada peringatan dini, tdk ada gunanya krn tdk sempat utk diselamatkan. Saya meminta utk dipertimbangkan dilakukan relokasi krn P Mentawai secara rutin kena musibah bencana gempa. Klo tidak, ya konsekwensi tinggal di pantai dan rentan gempa. Media sekarang ini sdh tdk ada baiknya lagi, semua berita tdk ada yg disampaikan dg benar.

Asust: Maksud bpk media sdh ga da yg benar apa? Pernyataan bpk dimaknai sama oleh sejumlah media. Jd media yg hrs mnta maaf atau bpk yg sebaiknya meralat ucapan sblm diboikot slrh wrtwn politik/dpr?

Marzuki Alie : Tdk semua media demikian, msh banyak yg baik. Protes sering saya sampaikan tp itulah alasan mereka bhw media harus memberitakan yg menarik drpd konteks pentingnya. Klo salah kita diminta utk meggunakan hak jawab, akhirnya kita habis waktu utk klarifikasi, pdhal media perlu berita, saya selalu dikejar utk minta berita, saya berpikir positif, wlopun isi berita selalu tdk tepat.

Agust: Sayangnya anda jg perlu media tuk puaskan libido politik anda dan partai ya. Bnyk wrtwn yg menggadaikan harga diriny bt kejar narsum mcm anda, tp tak sdkt jurnalis yg dgn sadar menyaring narsum&info brguna bt publik. Rakyat ga pdli sbrp tinggi kekuasaan, jbtn, dan titel anda, yg pntg bt kami adalah etika, moral, dan tnggungjwb mengemban amanah.

Jadi, silahkan anda nilai sendiri Ketua DPR anda itu

Oktober 07, 2010

Nembrala, Nirvana Tours in Rote Island

Posted by RoundTrip on Wednesday, March 31, 2010
The trip to the beach Nembrala, Rote



Nembrala coastal atmosphere, Rote, still far from the crowds. Most visitors just foreign tourists who love to play with the high tide the sea coast.

Fortunately for us who live in an archipelago of Indonesia. Geographical position of this country, tells many stories of the beauty of its beaches. The name of a popular beach in Indonesia, including Bali Kuta Beach, Senggigi Beach, and Beach Gili Trawangan Lombok, Yogyakarta Parangtritis Beach, beaches in the Wakatobi Sulawesi and many other beautiful beaches that may only be known for certain tourists. Like Nembrala Beach in East Nusa Tenggara which turned out to have long been known as a place to surf.

The story of the beauty of this Nembrala Beach, SP get from Area Development Manager Rote World Vision Indonesia, Sugiarto Atmodjo. Got pessimistic when heading to that place. Because, to arrive at the Village Nembrala, a trip that must be long enough, ie, initially, the air must travel from Jakarta to Kupang. Then in the port of Kupang Tanau, we have to catch the ferry to the island of Rote. Fast ferry which takes two hours, will bring us to the District prior Ba'a until at Village Nembrala.

Arriving in District Ba'a, the trip continued with the use of the automobile for almost 1.5 hours. Throughout the trip, the scenery can be seen is the dry grasslands and the branches of leafless trees due to drought. There are distinct impression at the sight. Beautiful but melancholy.

Unfortunately, the access road into the village from the district Ba'a Nembrala less so fun when we are not explorers who used to do off road. In addition, the distance is far enough, the condition of the course are also corrupted and not yet paved.

However, when I arrived at the beach, the beauty Sugiarto told it did not seem excessive. Beach Nembrala satisfactory eye with the blue sea water swash pulled over to the long white sand beaches.

That afternoon, the beach looks entourage Nembrala Latin American tourists who enjoy the peace of the beach and tried to follow the sun slow motion. This October, it was quiet Nembrala Beach. High wave surfer to enjoy the beach, in the months of June through September.

According to Sugiarto, most tourists who come to the beach Nembrala come from Australia. Not far from there, there is also a beach with waves Boa the same height and length. However, most tourists who visit an average stay at the Village Nembrala and naturally spend more time on the beach Nembrala.

According Sugiarto, the average tourist who visit the Village Nembrala spent many weeks to many months just to enjoy a game of waves.

Village Nembrala also relate the beauty of its own. In addition to offering spectacular beaches, hedge towering palm trees swaying leaves with a calm, really spoil the eye. Create a fresh and peaceful.

Traditional houses some people who still use bebak (wood from palm trees) with alang-alang roof, more and add to the beauty scene.

Villages located in the Southwest District Rote Rote Ndao Regency, East Nusa Tenggara is indeed like a hidden tourist nirvana. Far from the hustle and bustle of town, quiet and peaceful with the simplicity and hospitality of its inhabitants.

Beach Nembrala around, there are several lodging options, ranging from hotels to homestay with tens of thousands of rupiah rate to hundreds of thousand rupiah per night. Unfortunately, electric facilities in the village was sometimes off, sometimes even get it in turns.


Seaweed

Berambat late afternoon and evening. Activities on the beach is not only the beauty of heaven that await tourists at sunset. Some middle-aged people were busy combing the beach. There is a carry bag, some are carrying baskets behind their backs. They look for pieces of seaweed that is carried down to the shore the waves. Then, go home for drying seaweed.

According to the Head of Indigenous Village on the island of Rote Ba'a, Jhon Ndolu accompany an evening of SP and several colleagues enjoy the afternoon at Nembrala Beach, Rote Island many people who grow seaweed. They planted sea grass along the beach. Any case society Nembrala Village.

In addition to the above view, in the pouring sun in the afternoon, SP also seen some boat fishermen looked back on shore. Occasionally, the sound of cheerful young children who were enjoying the beach soaking in the silence of the sea.

That afternoon, while waiting for sunset, SP and friends decided to taste the typical dishes in a simple restaurant owned by a local inn. Not much different from other restaurants in the villages on the island of Rote, the restaurant also provides a fish sour soup, which is half-baked grouper cooked in boiling water and then boiled with water taste sour flavor that comes from, among others, tomato, kaffir lime leaves , stems lemongrass and basil. Therefore, the aroma was sour sauce successfully invited our appetite.

Besides fish sour soup, some fresh seafood with a larger size, such as blue swimmer crab, shrimp, and squid. Tomato sauce with a variety of spices wrapped in overcoming the fear will increase cholesterol levels due to high cholesterol is to eat.

Finally, the sun slowly began to sink on the horizon, casting fierce light remnants of a sweep of the orange tucked between small clumps of afternoon cloud gray. Breakeven with the beauty of this long journey that has taken to get to the place. [Christine Novita Nababan]

September 29, 2010

Debat Kusir 20 menit, Tarik Maaaaaaang!!!!!

Rabu (29/9), saya bangun cukup siang hari ini. Maklum, aktivitas memindahkan barang dari kamar kos lama ke kamar kos baru semalaman tadi, bukan cuma buang waktu, tapi juga energi. Nafas terengah-engah, sekonyong-konyong saya merasa mau pingsan. Pesan singkat redaktur menyadarkan saya pagi (atau siang) itu. Bunyinya, “listing berita apa hari ini, Rong?”

Gosh! Sontak saya bangkit dari tempat tidur. It’s 10.45 AM.

Mandi ala prajurit (baca: lima menit). Saya bergegas mengambil pakaian secara acak dari lemari, toh gak ada laki-laki potensial di kantor-gak takut terlihat jelek dong. Se-ala kadarnya. Lupa menggunakan parfum, body lotion, apalagi krim jerawat yang ritualnya makan waktu 15-20 menit.

Fajar, nama tukang ojek itu. Saya duduk di belakangnya dan sepeda motor itu pun melesat.

“Itu tanggul yang jebol kemarin, Rong!” kata Fajar menunjuk ke arah kanan sepanjang Ciliwung. “Katanya, 2012 nanti daerah sekitaran sini bakal jadi lautan,” cetusnya dengan nada serius.

“Ah, biarin-lah. Jadi, gak perlu ke Ancol jauh-jauh untuk berjemur. Naek ojek bayar goceng udah bisa nikmatin laut,” jawab saya diikuti gelak tawa.

Saya berpikir. Memang sih, beberapa tahun belakangan ini bencana banjir hampir dialami tidak hanya Indonesia, tetapi juga negara tetangga seperti, Taiwan, Filipina, Singapura, bahkan Rusia. Apa benar serangkaian bencana banjir ini bukti bahwa bumi sudah tua atau dampak global warming, pikir saya. Aduh, maaf kalau ada salah informasi, saya sendiri tidak mendalami isu ini.

“Global warming?” tanya Fajar.

Menutupi pengetahuan saya yang minim. “Ya gitu deh! Abis, orang-orang di luar negeri udah pada mulai mengkampanyekan global warming dengan serius, orang Indonesia malah asyik bangun mal-mal megah, penggunaan AC makin banyak, kendaraan makin bejibun, belum lagi budaya buang sampah sembarangan.”

“Oh gitu ya?” Fajar mencoba meyakini jawaban saya.

Well. Terlepas dari benar atau tidaknya penjelasan saya, saya hanya ingin menularkan pola hidup ramah lingkungan kepada Fajar. That’s it. Seriusssssssss!!

Obrolan saya dan Fajar tak terhenti disitu, sambil melintasi jalan sepanjang Manggarai menuju Palmerah, topik kami semakin hangat. Kali ini, soal pengendara lalu lintas yang kian hari kian memuakkan; pengendara sepeda motor yang menggunakan trotoar, melanggar rambu-rambu lalu lintas, supir bus ugal-ugalan, hobi nge-tem para supir angkot, sampai aksi pembalap-wanna be.

Fajar sempat berencana mencoba menggunakan trotoar untuk menghindari macet. Tetapi, saya melarangnya. “Jangan! Itu kan haknya pejalan kaki,” ucap saya tegas dan Fajar pun mengurungkan niatnya meski beberapa trotoar tampak menggoda selera Fajar-terlihat dari gerak tubuhnya mengontrol kemudi sepeda motor.

“Itu, Jar, orang Indonesia. Gak tertib. Lampu merah diterobos, dan ini lagi iring-iringan pembawa jenazah mengambil jalan forbidden. Ugal-ugalan. Memangnya orang mati punya jam masuk liang kubur apa? Kecuali korban kecelakaan atau ibu hamil yang mendesak melahirkan, perlu-lah kecepatan untuk menolong nyawa orang,” gumam saya.

Fajar sempat diam. Kemudian, angkat suara, “Gini, Rong, kalau semua orang tertib, memang gak bakal ada macet! Masalahnya, kalo gue doang yang berhenti di belakang garis di tiap lampu merah, gue doang yang gak naek trotoar, dan gue doang yang nyuap polisi kalo kena tilang, cape deeeeeeeeeeeeh, Rong!”

Saya tertawa, dan tangan saya mendarat ke punggung belakang si Fajar tukang ojek. “Itulah, Jar, makanya kalau gue punya duit cukup, gue bakal terbang sekarang juga ke luar negeri dan menghabiskan sisa hidup gue disana.”

Batin saya mengeluh, gimana mau maju, wong orang Indonesia itu bangga break the rules-malu menjadi patuh. Ah, semoga saja saya benar-benar dinikahi bule dan diboyong hidup tentram di negeri orang.

September 27, 2010

Titip sakitku di Cawang!

Cawang, dengan caranya sendiri, telah menjadi bagian dari aku. Sakitku, lebih tepatnya. Cawang menjadi bagian dari tinta yang kugoreskan di buku catatanku. Untuk semua pahit-manisnya, hiruk pikuk lalu lintas, rangkaian malam-malam penuh persahabatan dan atau gairah, plakat bergengsi, hingga udara yang kuhirup dan tanah yang kupijak, terimakasih. Hanya sekarang, kutitip sakitku di Cawang. Hasta la vista!


1 April 2007 adalah kali pertama aku menginjakkan kakiku di Cawang, bergulat hidup. Saat itu, aku menyandang status sebagai reporter Harian Umum Suara Pembaruan, setelah sempat mengais rejeki dari majalah satu ke majalah lainnya. Berkarir di harian nasional bakal lebih menantang dan mengasyikan, pikirku.

Dan, benar saja. Bekerja di harian nasional, terutama ambil bagian di panggung politik Tanah Air berarti menguras lebih banyak tenaga dan pikiran, hati nurani tidak terkecuali. Pagi bertemu pagi, malam bertemu malam. Idealisme dipertaruhkan. Alih-alih menjadi kurus karena bergadang 4 kali seminggu, aku malah terpaksa dirawat di rumah sakit akibat menderita tifus.

Mencicipi desk satu ke desk lainnya dibawah bimbingan redaktur satu ke redaktur lainnya ternyata juga menyenangkan. Bahwa, menulis untuk halaman budaya tidak semudah yang kubayangkan, dan mempelajari ekonomi tidak sesulit menebak angka tersembunyi dalam pelajaran matematika di bangku SMU atau teka teki silang.

Aku belajar banyak hal dan Cawang telah menjadi kelas bersejarah, mungkin bisa disebut ruang pesakitan. Bahwa, banyak pengalaman baru yang mengajarkanku ilmu berharga, tak terlepas dari bimbingan guru-guru terbaikku tentunya, senior, rekan kerja, maupun sahabat.

Hingga akhirnya, 1 November 2009, aku memutuskan hidup terpisah dari keluarga dan menyewa paviliun sebagai tempat tinggal sementara. Memang, ini bukan kali pertama aku tidur dibawah langit Cawang. Tak terhitung berapa malam yang kuhabiskan bersama rekan kerja di kantor, dibawah kaki meja kerja.

Disinilah, aku merasa, hidupku dimulai. Di ruangan berukuran 3x4 meter yang terletak diantara pemukiman penduduk di seberang kantorku. Ruangan busuk yang telah kusulap menjadi peraduan cantik, kemudian aku terusir karenanya. Karena, pemiliknya tak segan-segan mengambil keuntungan dari kenaifanku-kebodohanku.

17 Desember 2009, Cawang menjadi saksi kekecewaanku dikhianati seseorang yang kuanggap teman. Menyaksikan teman laki-lakimu mencium temanmu didepan wajahmu, aku bersumpah, bukan hal yang menyenangkan. Perasaan malu terhadap diri sendiri adalah pil pahit yang terpaksa kutelan saat itu.

18 Januari 2010, aku dipecat dari Harian Umum Suara Pembaruan. Beruntung, aku mendulang rupiah dari kejatuhan karirku itu, sehingga yang terpikir olehku adalah “bersenang-senang.” Mungkin terdengar bodoh bagi sebagian orang, tetapi tidak bagiku. Toh, karirku sudah mati sejak koran bernafaskan Kristen itu dipimpin pemimpin redaksi dan wakil pemimpin redaksi dengan karakter mental budak dan isi kepala yang tidak lebih pintar dari murid kelas 5 SD.

Cawang merasakan kebahagiaan yang lahir dari momentum itu. Hari-hari yang kuhabiskan dari satu pusat perbelanjaan ke pusat perbelanjaan lainnya, kelelahan bermain dan tertawa dengan sahabat-sahabat, hadiah-hadiah bagi enam malaikat kecilku (baca: keponakan), termasuk tambahan bersenang-senang bagi ibuku yang saat itu sedang berlibur.

Cawang, juga mungkin, merasakan kesedihan didalamnya, hari-hari mengetuk pintu satu perusahaan media ke perusahaan media lainnya tanpa mengesampingkan impian bekerja ideal, yakni status kepegawaian, tunjangan, dan lepas dari dikte penguasa.

Ternyata, cukup bagiku 10 bulan tidur dibawah langit Cawang di tiap-tiap malamnya, menghirup udara Cawang, menginjak tanah Cawang, berselimut debu Cawang. Selagi aku berkemas, terimakasih. Semoga, tidak ada titik yang akan membawaku kembali. Biar saja, kutitip sakitku di Cawang.