Maret 28, 2012

A Sister By Blood, A Friend By Choice

Sebetulnya, saya tidak suka memulai tulisan dengan awalan kata 'ketika'. Tetapi, kata sederhana itu telah menginspirasi saya membuat tulisan ini, tulisan yang dialamatkan kepada satu-satunya kakak perempuan terbaik yang pernah saya miliki. Selamat membaca!


Ketika itu, saya duduk di kelas empat SD, dan Donna, kakak saya di kelas enam SD. Saya ingat sekali, sedih bukan main saat orangtua Nita dan Rian, kolega orangtua saya mengajak Donna dalam acara liburan keluarga mereka. Padahal, nama saya tidak masuk dalam daftar. Orangtua Nita dan Rian memang menyukai Donna. Di mata mereka, Donna tidak saja anak yang baik, tetapi juga sangat menggemaskan (baca: cantik). Sementara saya, berkulit gelap, kurus, memiliki banyak bekas luka, dan tidak menggemaskan.

Pagi itu, di hari libur anak sekolah, orangtua Nita dan Rian sudah menyambangi rumah saya untuk menjemput Donna. Mereka akan ke tanah Jawa (saya agak lupa lokasi tepatnya). Orangtua saya menyambut mereka dengan wajah sumringah. Donna pun sudah mengenakan pakaian terbaiknya, dan sisiran yang rapih. Sementara saya, berdiri di balik gorden pemisah ruang tamu dan lorong kamar, melihat pemandangan yang menyakitkan hati saya. Pernahkah kalian berharap menjadi anak yang tidak menggemaskan? Yang tidak diinginkan?

Itulah kali pertama selama beberapa hari, saya menjalani malam-malam tanpa Donna. Saya kehilangan ritual sebelum tidur, yakni menghisap ibu jari dan saling memilin (menggulung-gulung) rambut masing-masing sambil membicarakan kenikmatan es krim Conello-Walls yang pada saat itu populer. Seingat saya, dua atau tiga hari itu adalah hari-hari yang sangat tidak menyenangkan. Saya menunggu dia kembali secepatnya. Saya berharap dia kembali secepatnya.

Kami pergi ke sekolah yang sama setiap hari. Kami selalu berangkat dan pulang bersama, mengenakan sepatu yang sama, bahkan kaus kaki yang sama. Kotak makanan dan minuman kami pun sama, meski terkadang berbeda warna. Tanpa seragam sekolah pun, orangtua kami berusaha keras mendandani kami dengan model pakaian serupa. Kami bukan si kembar. Kami membencinya, namun lambat laun kami mulai menikmatinya.

Secara emosional, hubungan kami dekat. Sangat dekat mungkin. Sampai-sampai kami memiliki kesamaan pandangan terhadap orangtua kami. Bagi kami, saat orangtua tidak bisa memahami, seorang saudara selalu bisa. Pernah satu hari, kami berdua melarikan diri dan tersesat di terminal bus, padahal hari sudah gelap. Ketika itu, orangtua kami bertengkar dan menghardik satu sama lain, yang ujung-ujungnya melampiaskan kemarahan mereka kepada kami.

Usia saya dan Donna terpaut kurang dari dua tahun. Mungkin, itu salah satu faktor yang membuat kami bisa berteman baik. Meski demikian, kami sering juga selisih paham karena pinjam-meminjam baju atau tas atau asesoris. Tidak tegur sapa menjadi hal biasa, tetapi itu pun hanya bertahan tidak lebih dari tiga hari. Kebanyakan, Donna yang terlebih dahulu menunjukkan sikap mengalah. Ya, dalam hal-hal seperti ini, dia memang jauh lebih dewasa ketimbang saya.

Hingga beranjak remaja, saya dan Donna masih berbagi banyak hal; kasur, bantal, make up, sampai uang. Tanpa perjanjian tertulis, saya kebagian tugas mengantar dan menjemput Donna kemana pun, sedangkan dia mengambil alih pekerjaan rumah yang biasanya ditujukan untuk saya, seperti mengambilkan gantungan pakaian atau sesuatu dari kulkas ketika ibu meneriakkan nama saya, atau juga memberi makan anjing-anjing peliharaan kami.

Hukum tidak tertulis kakak-beradik tersebut rupanya berlanjut hingga kami dewasa. Saya mengantar dan menjemput Donna, ke dan dari tempat kerja, tempat les bahasa Italy, atau mall ketika dia tengah berkumpul bersama teman-temannya. Dan, seperti saya telah ungkapkan di atas, tugas mencuci piring, mengambil gantungan, atau memberi makan peliharaan kami pun diambil alihnya. Cukup adil bukan?

Kami saling bertukar rahasia. Mengatakan dan menyimpannya rapat-rapat. Saya tahu betul daftar panjang laki-laki yang pernah menjadi incaran dan yang berhasil dikencani Donna. Siapa-siapa saja teman-teman dia yang menyenangkan dan yang menyebalkan. Begitu pun sebaliknya. Kisah-kisah itu mengalir begitu saja menjelang saat tidur tiba. Yang perkembangan informasinya akan dilanjutkan keesokan malamnya. Selalu seperti itu.

Sedikit-banyak, saya mempunyai pengaruh untuk menentukan mereka yang menjadi pacar dan teman Donna. Dukungan akan mengalir deras apabila mereka berhasil merebut hati saya, sama derasnya dengan upaya menjatuhkan jika saya tidak menyukai mereka. Ahaahahaaa.. Ini mengingatkan saya kepada Gomos, laki-laki tambun yang menggilai Donna, tetapi selalu menjadi sasaran empuk olok-olokan saya.

Padahal, kalau mau dirunut, Donna tidak membatasi pergaulan saya yang jauh lebih luas ketimbang yang dimilikinya. Dia hanya sesekali mengomentari laki-laki yang dekat dengan saya. Selebihnya, saya dibebaskan memilih. Terdengar egois, I know. Mungkin, karena saya merasa tahu lebih banyak soal pergaulan, karena saya merasa lebih jeli memilih mana yang membawa pengaruh baik dan membuang mereka yang membawa pengaruh jelek.

Satu-satunya hal yang Donna kritisi dari saya adalah kesulitan saya menabung. Uang saya selalu habis untuk; membelanjakan yang tidak perlu, menraktir teman-teman, dan jalan-jalan. Itu karena, dia tahu persis pendapatan saya lebih besar daripada yang diperolehnya. Maklum, dengan pendapatannya, dia merasa lebih bijak dalam menghabiskan uangnya, seperti berinvestasi dengan membeli emas dan asuransi jiwa.

Kata 'iri' tidak ada dalam kamus persaudaraan kami. Saya dan Donna tidak pernah memperebutkan laki-laki yang sama. Sama halnya dengan program televisi yang ingin kami tonton, selalu bisa dikompromikan. Acap kali bepergian, saya selalu membawakan Donna oleh-oleh yang paling bagus, yang paling mahal dari yang saya belikan untuk teman-teman, bahkan diri saya sendiri. Donna tidak begitu. Tetapi, itu pun tidak pernah membuat saya jera.

Kenyataannya, karakter kami memang berbeda. Saya mencerminkan seorang perempuan keras kepala, pembangkang, egois, emosional, dan ambisius, tetapi penyayang. Sementara, Donna terkenal penurut, lemah lembut, dan lebih sering mengalah. Secara fisik, kebanyakan orang berpendapat, kami juga tampak berbeda; saya tumbuh dengan gaya agak maskulin, pilihan baju yang jauh dari modis, sedangkan Donna, cukup feminim dengan make up, high heels dan tas jinjingnya.

17 Maret 2012, saya pertama kali menyadari betapa cantiknya kakak saya. Donna dengan balutan kebaya putih, songket keemasan, dan make up tebal ala pengantin. Saya hampir menitikkan airmata saat memandang wajahnya usai didandani. Batin saya, benarlah saya tidak mewarisi satu apapun kecantikannya. Tidak hidung mancungnya, atau tulang pipinya yang menonjol sempurna. Mari kesampingkan, tubuh pendek dan rambut teramat tipisnya terlebih dahulu. Itu pengecualian.

Hari itu Donna resmi dipersunting laki-laki yang telah dikencaninya selama dua atau tiga tahun belakangan. Adalah Eko yang kemudian menyandang status sebagai kakak ipar saya. Campur aduk. Ada perasaan bangga, bahagia, haru, dan sedih. Tentu saja, yang saya bicarakan ini, karena dia akan berganti teman tidur. Tetapi, sejujurnya, yang paling menyedihkan, dia akan hijrah bersama suaminya ke Italia.

Meski kasur menjadi lebih luas dan saya bisa menguasai bantal, itu artinya, tidak ada lagi malam curhat persaudaraan jelang saat tidur tiba. Lalu, kepada siapa saya akan mengutuki laki-laki brengsek atau teman yang tidak tahu diri? Kepada siapa saya akan merengek meminta dana talangan ditengah bulan? Atau menelanjangi diri mengungkapkan kekurangan orangtua kami? Tuhan, saya mendadak membenci hari ini. Tidakkah semuanya terasa begitu cepat. Atau mungkin, Kau memang terlampau cepat mendewasakan kami.


P.S i love you, a sister by blood-a friend by choice :)

Desember 01, 2011

Sihir Reruntuhan Angkor

What you don’t see with your eyes, don’t witness with your mouth
. Pepatah Yahudi ini sepertinya tepat menggambarkan rasa penasaran saya terhadap taman purbakala Angkor seluas 400 km2 yang terletak di Kota Angkor, Provinsi Siem Reap, Kamboja. Karena, saya akhirnya, menyaksikan dengan mata dan kepala sendiri bekas kemegahan kekaisaran Khmer di taman purbakala Angkor. Taman dengan 50 bangunan candi tersebut mampu menyihir saya meski yang ada di kawasan ini bukanlah candi utuh, melainkan reruntuhan.

Maklumlah, pembangunan candi tersebut sudah dimulai sejak pertengahan abad ke-12.
Tak perlu panjang-lebar, mari saya ceritakan sihir reruntuhan Angkor yang mengundang kekaguman dunia internasional. Jumat (11/11) lalu, saya berkesempatan mengunjungi Siem Reap. Perjalanan melelahkan dari Phnom Penh (sekitar 8-9 jam lewat jalan darat) tidak berhasil meruntuhkan semangat saya untuk menikmati rimbun sisa-sisa sejarah yang tertinggal. Beruntungnya, hanya perlu merogoh kocek sebesar 20 USD untuk bisa masuk ke kawasan yang jadi salah satu situs warisan dunia UNESCO (1991) ini.

Saya tak berhenti berdecak kagum, bahkan sejak pertama kali menginjakkan kaki di gerbang utama Angkor Archeological Park. Tuk tuk alias motor bergerobak dengan kapasitas penumpang hingga empat orang menjadi alat transportasi yang mengantar saya berkeliling dari satu candi ke candi lainnya.

Candi-candi Angkor adalah struktur bangunan yang sarat akan simbol. Candi-candi megah itu dibangun dengan parit di sekelilingnya, berbentuk gunung, bahkan ada yang menyerupai piramida. Uniknya, seluruh batu yang digunakan untuk membangun candi memiliki ukirannya masing-masing.
Misalnya, motif ukiran Apsara atawa bidadari surga bertelanjang dada dengan pose menari mewakili kecantikan kaum hawa, kemudian motif Kala yang menampilkan wajah mengerikan tanpa rahang bawah yang ditujukan untuk melawan kejahatan, serta motif Naga alias kepala ular.

Seperti informasi yang saya peroleh dari Wikipedia, ada lima kategori candi. Yakni, Angkor Wat dan Angkor Thom, candi termegah dan terkuno dari semua Angkor. Kemudian, Little Circuit, sebagian candi di timur Angkor Thom, dan Big Circuit, candi-candi di sisi utara dan menjauh ke timur. Keempat, Rolous Group, candi yang terletak di 15 km sebelah timur Siem Reap berdekatan dengan National Highway, dan terakhir, Candi Terluar yang terletak lebih dari 20 km dari Angkor Wat.

Terletak di enam kilometer utara Siem Reap, Angkor Wat adalah salah satu monumen terbesar kekaisaran Khmer. Saya, ketika itu, masuk melalui pintu utama barat. Monumen ini terlihat luar biasa besar dan megah. Sayang, saya tidak mencapai puncak menara dan gagal melihat gopuras yang menjulang lantaran mengenakan celana di atas lutut. Hanya mereka yang memakai celana/rok di bawah lutut dan baju dengan lengan yang diizinkan menaiki puncak menara.

Tidak masalah, saya masih bisa mengunjungi Angkor Thom. Candi ini tidak kalah menarik karena wajah batu raksasa yang menghiasi menara-menara Bayon. Saya juga menyempatkan diri mengunjungi Ta Phrom yang terkenal karena pohon besarnya. Tak heran, Ta Phrom lebih mirip hutan saking banyaknya pepohonan yang menyandar pada candi-candi ini. Selain itu, ada juga Ta Keo, candi dengan tangga paling curam untuk mencapai tingkat teratas. Saya hampir kehabisan nafas ketika menaiki anak-anak tangganya.

Pesona lainnya di sekitar Angkor Wat adalah taman raksasa ini diselimuti langit luas nan biru. Meskipun, tidak jauh berbeda dengan hujan debu di Phnom Penh. Oh ya, ada lagi, yaitu wisata kuliner di gubuk-gubuk sederhana di sekitar Angkor Wat menyajikan makanan yang lezat, termasuk wisata belanja yang, demi Tuhan, relatif murah. Mulai dari pakaian, selendang, pernak-pernik, kartu pos, gantungan kunci, tempelan kulkas, topi, benda-benda seni dijual mulai dari 50 sen sampai 8 USD.

Sayang, waktu serasa cepat berlalu, dan membatasi kegiatan saya di hari itu. Alhasil, saya hanya berkesempatan mampir ke satu candi megah lainnya untuk melihat matahari terbenam. Sialnya, candi terakhir yang saya datangi terlalu padat pengunjung. Alih-alih melihat matahari terbenam, saya malah melihat tumpukan kepala para wisatawan di puncak menara. Ah, tetapi saya berusaha untuk menikmati akhir dari petualangan hari itu. Walaupun, saya yakin, saya pasti akan kembali ke sana suatu hari nanti.




Oktober 28, 2011

Para Agen Asuransi Itu Lebih Bertanggungjawab Dibandingkan Bakrie Life


Jika pemilik Bakrie Life bisa seenak jidatnya ingkar janji mengembalikan dana nasabah, tidak demikian dengan para agennya. Di tengah keterbatasan penghasilan, mereka berupaya mengembalikan dana nasabah Bakrie Life.

Enam tahun lalu, Oki Mulyades boleh tersenyum lebar. Ia berhasil menorehkan prestasi sebagai Best Financial Consultant di Asuransi Jiwa Bakrie. Iapun dengan mudah memperoleh pundi-pundi penghasilan menjadi agen Bakrie Life.

Tapi kini cuma perasaan malu yang menggelayut diri pria berusia 26 tahun ini. Sanak saudaranya menuntut hak pembayaran Bakrie Life. Maklum, dahulu Oki banyak menjual produk Bakrie Life ke mereka dan juga ke teman-teman dekat.

Walhasil, agen asuransi jiwa bersertifikat resmi Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) dengan nomor lisensi 012119 ini pontang-panting mengurus pencairan dana nasabah. Salah satu kontrak mereka berakhir November 2010. "Paman saya adalah nasabah all life assurance Bakrie Life dengan nomor polis 03-41.2004.07672. Seharusnya memperoleh manfaat nilai tunai pada akhir tahun lalu. Alih-alih mencairkan benefit, perusahaan penanggungnya malah tersandung masalah," ujar Oki kepada KONTAN, kemarin.

Padahal, terdapat 15 polis dari 10 orang sanak saudara dan rekan sejawatnya. Masing-masing polis itu berbeda manfaat satu dengan yang lain. Sebagian mengambil all life assurance, personal accident, hingga education plus assurance untuk anak-anak mereka.

Nasi sudah menjadi bubur. Oki patah arang mendengar perusahaan tempatnya berkarier dahulu bak telur di ujung tanduk.

Oki yang memulai karier dari kantor cabang Bandung, Jawa Barat, itu diminta memperjuangkan hak nasabah yang ditangani. "Aneh rasanya menagih janji manfaat nilai tunai yang hanya secuil ke perusahaan asuransi kelompok usaha kelas kakap," terang Oki.

Lena punya cerita lain. Mantan karyawan bank ini berniat membantu Aan, rekannya yang menjadi agen asuransi jiwa Bakrie Life mencari nasabah. Dia merekomendasikan Listyani agar menanamkan uangnya lewat produk asuransi jiwa berbasis investasi, Diamond Investa.

Bukannya ucapan terima kasih, wanita yang berdomisili di Bandung, ini malah harus menanggung beban moral ketika jaminan proteksi urung diterima Listyani. "Saya bukan agen. Saya serba salah ketika Listyani menuntut pertanggungjawaban," pungkasnya.

Aan selaku agen asuransi yang menutup pertanggungan Listyani menolak berkomentar. Dia mengklaim telah mengundurkan diri dari Bakrie Life sejak November tahun lalu. "Karena saya sudah tidak in charge. Silakan hubungi Iceuh di Bakrie Life," tegas Aan.

Iceuh mengaku bukan agen asuransi, melainkan karyawan Bakrie Life. Ketika dihubungi lebih lanjut, Iceuh belum bisa berbicara banyak. Dia meminta dihubungi lain waktu.

Sementara Ubaidillah harus rela hidup tanpa tabungan. Ia memiliki kewajiban lebih dari Rp 20 juta, yang berasal dari 10 nasabah Bakrie Life yang ia "prospek". Mereka adalah kerabat dan kawan dekatnya. "Gaji saya di perusahaan sekarang cuma Rp 2,5 juta. Dari 10 orang itu, saya baru melunasi satu orang sebesar Rp 2,7 juta," terangnya.

Ia mengaku tak terlalu berharap uangnya kembali. "Menurut perjanjian, jika mengembalikan polis sebelum jatuh tempo cuma mendapat setengah. Ya, mudah-mudahan benar kembali setengah, sehingga dana itu bisa untuk membayar nasabah saya yang lain," terangnya.

Sekadar informasi, sanak saudara dan rekan sejawat Oki, Ubaydillah dan Lena hanya sebagian kecil dari korban produk asuransi Bakrie Life. Aktivitas usaha Bakrie Life sendiri dihentikan sejak kasus gagal bayar terhadap 250 nasabah Diamond Investa (DI) dengan total dana mandek mencapai Rp 360 miliar.

Sebelumnya, Kepala Biro Perasuransian Bapepam-LK, Isa Rachmatarwata memperkirakan, utang tertunggak ke nasabah non-DI sekitar Rp 50 miliar. Masalahnya persis nasabah DI.

Ketika dihubungi KONTAN, Direktur Utama Bakrie Life Timoer Soetanto mengaku, Bakrie Capital Indonesia (BCI) selaku induk usaha dan kelompok usaha lain masih mengupayakan penyelesaian kewajiban. "Tetapi, kami belum berani menjadwalkan karena belum ada dana," terangnya.

Yang ironis, bukannya mendahulukan pembayaran cicilan pengembalian dana, BCI malah mengejar hak siar sepak bola Piala Dunia 2014 di Brasil. BCI rela merogoh kocek cukup dalam untuk hak siar tersebut.

Awal pekan lalu, Biro Perasuransian Bapepam-LK kembali memanggil manajemen Bakrie Life dan induk usahanya. Pertemuan tersebut kabarnya untuk menegur Bakrie Life agar segera melakukan pembayaran. Sayang, pertemuan demi pertemuan seperti menemui jalan buntu. Bakrie Life kerap angkat tangan ketika ditodong penyelesaian kewajiban. Apakah ini strategi manajemen mengulur waktu hingga regulator memutuskan mencabut izin usaha?

Jika demikian, regulator tidak lagi berwenang membujuk Bakrie Life mengembalikan dana yang hilang. Bakrie Life juga selamat dari tuntutan nasabah, kecuali membagikan aset perusahaan yang tersisa, termasuk medium secured note. Itupun, kalau surat utang tersebut benar masih ada.

Aneh, perusahaan besar dan pemegang hak siar Piala Dunia 2014, kok, tak mampu membayar dana nasabahnya yang cuma secuil.

Christine Novita Nababan diambil dari http://keuangan.kontan.co.id/v2/read/1319528315/80927/Para-agen-asuransi-itu-lebih-bertanggungjawab-dibandingkan-Bakrie-Life-

Juni 19, 2011

Traveller's Shoes (2)

Keterlambatan jam penerbangan, dan keputusan mendarat darurat di bandar udara yang bukan tujuanmu memang menyebalkan. Apalagi, jika petugas maskapai penerbangan yang bersangkutan tidak sepenuh hati melayanimu. Lelah, lapar, dan meleset dari apa yang telah kau rencanakan adalah imbas yang tidak bisa dihindari. Tetapi, begitulah hebatnya perjalanan, selalu ada kejutan.

Siak, Pekanbaru
Selang lima hari melancong ke Phuket, Thailand, aku terbang menuju Siak, salah satu kabupaten di Provinsi Pekanbaru. Tak usah disebut lah ya apa yang membawaku kesini. Anggap saja, aku tengah mengunjungi kampung halaman teman seprofesiku, Afni. Anak Siak yang berhasil menyabet gelar Master of Science dan berkarir sebagai jurnalis di ibukota Jakarta.

“Pesawat terpaksa mendarat di bandar udara Polonia, Medan, karena cuaca buruk yang tidak memungkinkan untuk mendarat di tempat tujuan, yakni bandar udara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru,” ujar pilot pada pengeras suara dalam pesawat. Alhasil, badan pesawat yang tadinya sempat menukik turun, kembali mengudara disambut gaduh suara penumpang bertanya-tanya.

Sebetulnya, aku sama paniknya dengan mereka semua. Guncangan yang terasa di dalam pesawat lebih hebat dari yang pernah kurasakan. Hujan lebat dan awan tebal penyebabnya. Sontak aku meremas tangan kiri Afni yang duduk tepat di sebelah kananku. “Af,” lirihku khawatir. Ketakutanku itu tak mendapat respon dari Afni, kecuali membalas dengan wajah datar.

Tepat pukul 22.22 WIB aku dan sekitar 100 penumpang lainnya keluar dari perut pesawat. Ketika itu, tidak ada satu orang pun yang menjelaskan tentang apa yang akan kami lakukan setelah ini. Keputusan petugas maskapai penerbangan sempat menggantung di udara sampai kira-kira 30 menit kemudian kami semua diboyong untuk menginap satu malam di Medan.

Memang sih, fasilitas yang disediakan lumayan membayar lelah kami. Dua hotel berbintang jadi pelabuhan sementara para penumpang, sebagian tinggal di Soechi Hotel-Novotel, sedangkan sisanya bermalam di Hotel Tiara. Aku yang malam itu kandung lelah, sudah tidak sempat mengkritik petugas maskapai penerbangan. Bahkan, Afni yang tak henti mengoceh pun tak kuladeni kali ini.

Pukul 05.30 WIB aku sudah rapih. Hanya mengganti kaus dan menggosok gigi, pagi itu aku sempat menyantap semangkuk sereal. Agak terlunta-lunta sebelum akhirnya pesawat membawa kami kembali ke Pekanbaru. Dan, dengan membawa tas besar seberat bayi kembar, aku tertidur lelap ketika pesawat mengudara. Saking nyenyaknya, sepengetahuanku, aku bangun 10 menit sebelum pesawat mendarat.

Afni yang agak tergesa-gesa dalam melakukan beberapa hal, sudah masuk dalam taksi. Aku menyusul. Dan, taksi tanpa argo itu pun melesat. 20 menit kemudian, kami sudah melantai di rumah kakak ipar Afni. Pria berdarah asli jawa itu dengan ramahnya menawarkan kami beristirahat. Sayang, kami hanya sempat menyantap semangkuk sayur lontong lokal dan bergegas menuju Siak.

Mobil sewaan berwarna telor asin melaju. Aku sebagai pengemudi, dan Afni sebagai navigator. Kami ganti-gantian tukar pengalaman sambil menyusuri jalan selama tiga jam untuk sampai di Siak. Sekali-kali kami hening. Aku menikmati pemandangan jalan di sisi kiri dan kanan, termasuk truk gandar 12 yang terjerembab masuk parit akibat kelebihan kapasitas. Sementara, Afni sibuk bertelepon dan menggunakan pelembap wajah.

Seorang suami istri lansia menyambut kami. Logat melayu yang terlampau kental membuatku kurang memahami apa yang mereka bicarakan. Beruntung, Afni dengan sigapnya memberi penjelasan acap kali melihat jidatku berkerut. Adalah ibu Erma dan bapak Zulkifli dari temanku itu yang barusan memberikan ucapan selamat datang, diikuti oleh empat saudara laki-laki Afni lainnya, Irfan, Hamka, Hatta, dan Fai (semoga aku benar mengejanya).

Ibu Erma menyiapkan makanan untuk aku dan Afni. Menu siang ini, ikan gabus balado plus tempe. Oh, ngiler. Aku pribadi memang suka sekali masakan rumah, makanan kampung atau apalah itu. Aku jadi teringat Kessy, si mbak di rumah yang selalu memasak makanan kampung setiap aku meminta. Biasanya aku minta dibuatkan ikan mujahir, bandeng, atau tongkol, sambal terasi, dan tempe.

Sejak tersesat di Medan kemarin, aku belum sempat mandi. Adalah air sungai Siak. Warna air permandiannya menyerupai lemon-tea, kuning kecokelatan. Jujur, awalnya aku ragu soal kebersihan air disini. Tapi sudahlah, toh warga sekitar mandi dari air sungai kecokelatan itu pun masih berusia panjang dan tidak menderita penyakit kulit. Asal tidak untuk diminum. Maklum, layanan PAM sangat terbatas, masyarakat Siak saja biasa mengandalkan air hujan untuk diminum.

Lanjut crita, belakangan, Ira muncul. Ira, tak lain adalah sahabat karib Afni semasa sekolah di Siak. Karena, aku tipikal orang yang terbuka dan tidak canggung berhadapan dengan orang baru, Ira mendadak menjadi sahabat karibku juga. Kami bertukar cerita, tertawa, menyantap es kelapa (di Siak es kelapa dilarutkan dengan gula pasir) dan menghabiskan sore jelang malam di tepi sungai Siak.

Kembali ke rumah, tahu-tahu ibu Erma telah menyiapkan makanan malam. Dari makan malam itulah, kami mulai berbincang. Mulanya mengenal satu sama lain dengan menanyakan nama, pekerjaan, tempat tinggal. Hingga, pengalaman hidup di Jakarta dan tak ketinggalan tentunya, jodoh. Buat aku yang lajang di usia 28 tahun, obrolan semacam ini seolah menuntut pengakuan dosaku yang terlalu sibuk berkarir.

Semakin malam obrolan semakin serius loh. Agama. Entah kenapa, aku suka sekali memperdebatkan keyakinan atau kepercayaan orang lain. Ujung-ujungnya, seisi rumah angkat suara. Afni dan keluarganya, termasuk Ira merupakan Muslim yang taat. Berbeda sekali dengan aku yang terlahir sebagai Protestan, yang belakangan memilih mempercayai Yesus Kristus tanpa harus memeluk agamanya.

Orangtua Afni itu terkejut mendengar pengakuanku. Mereka mengkritisi caraku berpikir dan memaknai agama. Ah, mereka hanya belum mengenalku. Akulah satu-satunya batu yang tidak akan tumbang menjadi karang dan butiran pasir di pantai. Dalil agama apapun langsung kupatahkan jika moral dan perilaku manusia masih menyerupai binatang. Lupakan! Bukan untuk itu tulisan ini dibuat.

Minggu pagi aku terbangun. Rupanya, aktivitas penghuni rumah yang membangunkanku. Ibu Erma mondar mandir ke dapur memasak. Sedangkan lainnya sibuk mempersiapkan permainan flying fox di halaman belakang. Mana mungkin, aku asyik tertidur di tengah orang lalu lalang di atas kepalaku. Skip this part, langsung saja aku, Afni dan Ira mencari santap pagi. Kami pergi ke pasar, disanalah pusat jajanan enak telah menanti.

Aku memilih mie basah, sedangkan dua perempuan berjilbab ini memilih lontong pecel. Kuliner disini sangat enak. Entah, karena aku sedang doyan makan atau rasanya memang enak. Di restoran yang pemiliknya berdarah Tiong Hoa itu, aku melihat beberapa pengunjung restoran lain mengamatiku. Tampaknya, mereka hafal betul untuk membedakan warga Siak dan pendatang.

Siang hari kami duduk bersama di tepi sungai siak. Aku asyik menulis catatan ini (yang sekarang kalian baca), lainnya mengobrol, dan sisanya bermain di halaman belakang. Aku berkesempatan memainkan daftar lagu favorit di iPod-ku. Aku langsung menyambar pengeras suara dan memutar lagu sekeras-kerasnya. Sangat keras hingga bapak Zulkifli memutuskan untuk mematikan pengeras suara, tanpa mengecilkan volumenya terlebih dahulu, tanpa menekan tombol henti pada iPodku.

Tiba-tiba Afni mendapat pesan singkat. Direktur salah satu operator minyak di Siak meminta dia dan aku untuk datang di perhentian heli di dekat jembatan Sultanah Agung Latifah, jembatan termegah di Siak. Afni tampil cukup rapih, sedangkan aku hanya bermodalkan kaus ungu dan sendal hotel. Sial. Aku terpaksa turun dari mobil menghampiri Afni dan beberapa pejabat daerah dan deputi menteri dari Jakarta yang sedang ber-ramah tamah.

“Kapan aku pulang? Kapan aku pulang, Af?” batinku berteriak.

“Tiket pesawat ke Jakarta terlalu mahal untuk kita kembali ke Jakarta esok, Senin (20/6), Rong!” Afni tiba-tiba berkelakar.

Mati aku! Aku punya pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan di Jakarta. Aku jurnalis untuk harian bisnis dan investasi yang bekerja setiap Minggu sampai Jumat. Tetapi, saat ini juga aku menuliskan cerita ini, aku masih di tepi sungai Siak sambil menikmati es kelapa keduaku sejak menginjak Siak.

Traveller's Shoes (1)

Tak peduli seberapa sesaknya kau mengantri saat boarding pass menuju perut pesawat, perjalanan – apapun tujuannya, selalu berhasil membuatmu tersenyum. Bahkan, kau rela melenyapkan tiga hingga lima bulan gajimu hanya untuk mengongkosi sepekan keberadaanmu ditengah-tengah orang yang tidak kau kenal. Percayalah, kakimu itu cukup pantas memakai sepatu paling nyaman untuk membawamu melangkah ke tempat-tempat indah.


Phuket, Thailand
Aku tidak pernah membayangkan sebelumnya akan melihat kota utama di selatan Thailand ini. Alasannya sederhana, terlalu mahal untuk mewujudkan liburan di tempat syuting salah satu film Hollywood yang dibintangi Leonardo DiCaprio, The Beach. Faktanya, mimpiku jadi kenyataan setelah Oktober 2010 lalu aku mengamini keinginan Igun, salah satu teman perjalananku, untuk membeli tiket promo ke Phuket. Yang diikuti dengan bergabungnya Agha, teman lainnya.

Minggu, 5 Juni 2011, aku menginjakkan kakiku untuk pertama kalinya di Phuket. Selain Igun dan Agha, ada pula Anna dan Ia, dua teman lain yang bergabung pada detik-detik terakhir. Sayang, kami tiba terlalu malam untuk menikmati si cantik Phuket. Alhasil, setelah bersih-bersih di penginapan yang cukup layak disebut hotel untuk harga 200 baht alias Rp 60.000 per orang (1 baht = Rp 300), kami hanya bisa membunuh waktu sebelum tidur dengan menyantap isi gerobak penjaja makanan di depan penginapan.

Nasi ketan, babi bakar, dan sate babi jadi menu pilihan makan malam – telatku ketika itu. Sebetulnya, agak aneh mengunyah nasi ketan di malam hari. Apalagi, dengan lauk babi. Tetapi, kebanyakan gerobak serupa memang hanya menyajikan nasi ketan. Jadi, inilah kuliner Thailand, pikirku. Jelas berbeda dengan nasi ketan yang aku santap di negeri asal, di Jakarta biasanya disajikan dengan tempe, sementara di Medan dimakan dengan pisang dan di Pekanbaru disantap bareng durian.

Tak mau rugi, kami berlima bangun pagi-pagi sekali keesokan harinya, sekitar pukul 8. Cukup pagi bagiku yang hobi bangun tidur di atas pukul 10. Pagi itu kami mengunjungi Karon Beach. Letaknya sekitar 300 meter di belakang penginapan. Garis bibir pantainya cukup pendek, kami menyusurinya dari ujung ke ujung. Pemandangannya yang langka, air laut yang hijau berpadu dengan birunya langit. Banyak pelancong tergeletak santai bak ikan terdampar di atas pasir berwarna kuning gading.

Igun dan Ia tergoda untuk bermain air. Sementara, aku, Agha, dan Anna asyik menonton sambil menyeruput es kelapa. Sampai, langit mendung menyelimuti kami, dan hujan turun, jadilah kami memutuskan untuk kembali ke penginapan. Tak puas dengan aktivitas itu, kami ber”tuk-tuk ria” menuju Patong Beach. Sekitar delapan kilometer dari penginapan. Adalah Jungceylon, gedung pusat perbelanjaan dan hiburan di area Patong Beach yang akhirnya kami kunjungi.

Tapi jangan salah sangka dulu! Kami tidak nge-mal ala anak metropolitan loh. Melainkan menghibur diri untuk menonton film-film box office yang tidak diputar di Indonesia. Sebut saja, Kungfu Panda 2, Pirates of The Carribean 4, dan Fast Furious 5. Bangga bukan main. Maklum, cukup merogoh kocek 80 baht untuk tiket ala nomat, dan 120 baht untuk tiket regular, kami berlima bisa pamer potongan tiket dan cerita seru dari film-film yang dimainkan kepada teman kami masing-masing.

Kemudian, kami juga mencoba makanan dari satu tempat ke tempat lain, dari kelas gerobak sampai kelas restoran. Dan, entah bagaimana, babi dengan sajian yang berbeda-beda, dan Chang Beer (bir lokal) tidak pernah luput dari daftar pesananku. Teman-temanku sempat memprotes pola makanku yang mereka anggap monoton itu. But, i really enjoy it. I really dit.

Tea, begitu kami menyapa Chai (baru belakangan kami ketahui nama sebenarnya) yang menjadi pemandu wisata. Dia melego beragam paket wisata yang menggiurkan, mulai dari Phi Phi Island, James Bond Island, aksi lenggak-lenggok para waria dalam Simon Cabaret, Phuket Fantasea, hingga sewa mobil dan sepeda motor. Yang terakhir tidak menjadi pilihan mengingat tidak satu orang pun yang mengantongi surat izin mengemudi internasional.

Beruntung, Tea alias Chai yang lemah lembut nan pendiam itu menawarkan antar-jemput plus paket wisata harian dengan harga lumayan murah. Jadilah kami menyewa jasanya seharian penuh hanya dengan membayar 1.600 baht. Jumlah itu hasil patungan kami berlima untuk menikmati Big Buddha, kuil-kuil bersejarah, termasuk mendampingi kami wisata belanja.

Phi Phi Island, satu-satunya pulau yang menyihirku. Perjalanan dengan kapal laut berkapasitas 50 orang ini benar-benar membuatku takjub. Lautnya bersih, meski ada juga pemandangan plastik-plastik bekas menjorok ke bibir pantai. Kapal-kapal yang bersandar seolah mencubit lenganku mencoba menyadarkan bahwa aku tidak sedang berada di Ancol, Jakarta. Dan, terutama, pemandangan bule-bule ber-tattoo bertelanjang dada itu loh. They really turns me on.

Aku juga ingat ketika kapal kami berlabuh di Khai Beach. Sejujurnya, pantai ini tidak kalah indah. Malah, batu-batu karang yang menghias separo pulau tak berpenghuni tersebut makin terlihat seksi. Hanya saja, ketika aku beraktivitas snorkling, hanya segerombolan ikan-ikan seukuran jempol tanganku yang ada di alam bawah laut. Lainnya tidak ada. Berbeda dengan yang kutemui di bawah laut di perairan Phi Phi, aku melihat banyak jenis ikan.

Oh iya, adegan yang paling kusuka adalah bagian ketika aku melompat ke laut dari kapal yang kutumpangi. Sederhana saja, mimpiku adalah melemparkan tubuhku ke hamparan air di tengah laut. Tanpa life jacket, hanya bermodalkan kacamata dan alat bernafas, plus bikini dan celana pendek yang kukenakan pastinya. Kau tahu apa yang kurasakan saat air menampar tubuhku? Aku merasa lebih beruntung dari Leighton Meester yang mendadak melejit sebagai bintang serial Gossip Girl.

Menikmati Phuket tidak melulu soal pantai, bikini, atau tabir surya. Jangan lupa, Phuket juga terkenal dengan dunia malamnya yang gemerlap. Pernah mendengar aksi para waria memamerkan lekuk tubuh mereka sebagai penari telanjang? Ah, saranku, matamu harus menyaksikannya sendiri. Karena, sampai hari ini pun, aku tidak menyangka para waria itu berhasil menandingi kecantikan Luna Maya.

Aku dan empat temanku lainnya juga mencicip Ping Pong Show. Menyaksikan mereka (diantaranya terdapat waria) memecahkan balon dengan menembakkan jarum yang ditancap pada vagina mereka. Belum lagi, aksi unik, seperti menghisap rokok lewat vagina, dan bermain bola ping pong (keluar-masuk) melalui vagina mereka. Pertunjukan ekstrem yang dilabel seharga 500 baht ini sungguh menghibur.

Bahkan, lebih menghibur dari malam terakhir yang kuhabiskan di dua kelab malam di Bangla Road. Sedikit cerita, sekitar dua jam berada di Hollywood kuakhiri dengan pertikaian kecil dengan petugas keamanan setempat. Aku mengacungkan jari tengah ke wajah petugas itu. Aku memang temperamental. Tetapi aku juga tidak bisa diam saja melihat arogan wajah tukang jaga kelab tersebut memandang rendah kami, terutama saat Daniel – salah satu teman lokal kami beraksi di lantai dansa.

Februari 10, 2011

Mau Bakar Gereja Lagi? Monggo..

Tulisan ini bermula dari status di akun facebook seorang teman bernama Christine Birong Nababan. Begini bunyinya, "gereja hanya bangunan fisik! sesungguhnya, Tuhan menetap di hati kami masing-masing... monggo, kalo mau bakar gereja lainnya :)".

Ada rasa haru, sekaligus malu menyimak kalimat Birong. Bayangkanlah, Birong tak membalas perlakuan para pembakar gereja itu dengan caci-maki atau bahkan balas membakar rumah ibadah milik para pembakar. Tidak! Birong malah memberi ikon senyum di pungkasan kalimatnya.

Lantaran sikap Birong yang manis itulah, saya dibuatnya malu. Bayangkanlah, dia malah memberi senyum seraya menyilakan kepada perusak gereja untuk membakar gereja lainnya. Kontras benar dengan tayangan video di televisi yang menyajikan tayangan orang-orang yang murka dan membabi-buta, merusak apa saja yang ada di hadapan mereka, termasuk gereja, seperti yang banyak diberitakan oleh media massa. Saya yakin, hati Birong dan saudara-saudara saya yang beragama Nasrani tersakiti oleh peristiwa ini, sebagaimana ketika Zaenal, kawan saya yang Muslim, mendengar kabar di Amerika ada pembakaran Al Quran, di Denmark surat kabar Jyllands-Posten memuat karikatur Nabi Mauhammad SAW.

Sama dengan sikap Birong, Zaenal dan sebagian umat Muslim lainnya juga menanggapinya dengan bijaksana, bahwa yang melakukan tindak penistaan terhadap Islam hanyalah oknum yang tak bertanggung jawab, oknum yang tak memikirkan akibat dari perbuatannya. Perbuatan oknum, jelas bukan gambaran dari keseluruhan. Tentu saja, sebagian ada juga yang marah-marah. Mafhumlah, agama adalah fitrah. Menurut para pakar, di dalam jiwa manusia itu ada enam rasa/potensi, yaitu agama, intelek, sosial, susila, harga diri dan seni. Fitrah sendiri adalah potensi-potensi tertentu yang ada pada diri manusia yang telah dibawanya semenjak lahir.

Terlepas dari musabab meletusnya kemarahan, betapapun setiap agama mengajarkan agar manusia bisa mengendalikan amarahnya sehingga tidak menimbulkan api yang bisa membakar apa saja. Yang jadi soal adalah, kenapa belakangan di negeri ini justru kemarahan senantiasa berujung pada ketidak-warasan akal. Rambu-rambu yang diajarkan oleh semua kitab suci seperti tak berarti apa-apa, demikian juga perangkat hukum yang menjaga ketertiban umum, tak berdaya menghadapi amarah warganya.

Tak terbayangkan, jika amarah sekelompok orang dibalas oleh kelompok lainnya. Tentu persoalan akan bertambah panjang dan semrawut, seperti kerusuhan antarsuku di Kalimantan beberapa waktu lalu.
Entahlah apa yang sedang terjadi dengan bangsa ini. Tapi satu hal, rasanya kita telah kehilangan "cara bertanya" dan "cara menyampaikan pendapat" yang santun, yang dulu dicontohkan oleh leluhur kita.
Dalam keseharian, kerap benar kita menjumpai seorang anak atau remaja yang bertanya begini kepada kita, "Si Polan ada?" Pertanyaan yang dingin dan kaku tanpa menyebut terlebih dahulu orang yang ditanya. "Pak, Bu, Mas, Mba, Si Polan Ada?" Begitu misalnya.

Pun demikian ketika menyampaikan pendapat. Cara-cara berdialog rupanya dianggap bertele-tele. Hajar dulu, urusan belakangan. Dan... bres! Bres! Bres! Setelah semuanya luluh-lantak, setelah semuanya jadi abu, setelah nyawa pegat dari raga, barulah kita ngungun dan bertanya-tanya, betapa telah kelewat jauhnya kita dari yang disebut beradab.

Tapi untunglah, kita masih menyisakan orang-orang baik macam Birong dan Zaenal, serta saudara-saudara lainnya yang senantiasa menjaga akal sehatnya, sehingga tidak gampang tersulut amarahnya oleh sebuah sebab yang bahkan telah melukai fitrahnya.

Birong, Zaenal, dan saudara-saudara kita yang baik tentu masih percaya, akal sehat adalah benteng pertahanan terakhir bagi kejernihan hati. Akal sehat itulah suluh penerang yang memandu manusia mengenal kemanusiaannya. Itu sebabnya, Zaenal tak ikut-ikutan mengumbar amarahnya dengan membalas membakar kitab suci agama lain. Itulah soalnya, Birong masih bisa tersenyum tatkala gereja di Temanggung dibakar.

Terima kasih Birong, untuk senyummu, juga untuk kebaikanmu dengan tidak ikut-ikutan marah. Moga-moga pikiran dan hati kita senantiasa bersih, agar Tuhan tetap tinggal di hati kita sekalian.

Salam damai, untuk kita sekalian.



Jodhi Yudono
http://oase.kompas.com/read/2011/02/09/15070924/Mau.Bakar.Gereja.Lagi.Monggo.

Februari 07, 2011

Yang teriak "Allahuakbar" gak malu apa sama Gus Dur?

Kalau saya jadi presiden, hari ini saya kumpulkan oknum-oknum yang mengklaim diri mereka Islam, yang kerap meneriakkan "allahuakbar," tetapi menganiaya sesama. Saya akan tanya siapa TUHAN-nya? Saya akan tanya apa agama-nya? Termasuk, tempat mereka beribadah. Kalau TUHAN, agama dan tempat beribadah mereka ternyata sama persis dengan teman-teman saya yang Islam, maka saya akan mengajak mereka (Islam) yang tidak menyerang Ahmadiyah untuk berpindah kewarganegaraan.


Karena, Pemerintah Indonesia sudah sangat keterlaluan payahnya menjaga keamanan dan ketenteraman umat beragama di tanah kelahirannya sendiri. Ironis, melihat satu sama lain seperti berlomba-lomba mengucurkan darah mereka-mereka yang tergabung dalam Ahmadiyah. Seolah-olah ingin menegaskan, ada Islam di atas Islam. Dan lucunya, Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono cuma bisa menginstruksikan agar dilakukan investigasi sebab-akibat peristiwa penyerangan Ahmadiyah.


Kalau saya jadi salah satu anggota Ahmadiyah, saya tidak akan segan-segan meminta suaka oleh pemerintah negara tetangga. Malaysia misalnya. Negara produsen teroris itu saja mampu menjaga keamanan umat beragama. Padahal, kita tahu, tidak sedikit warga negara keturunan Tionghoa yang memeluk Budha, atau India yang beragama Hindu. Jangan lupa, sejarahnya, Indonesia pun bukan negara beragama. Contohnya, Parmalim sebagai kepercayaan asli orang Batak dan Wiwitan sebagai kepercayaan asli orang Sunda. Jangan ingkari sejarah!


Saya teringat beberapa diskusi yang saya hadiri dengan teman-teman Jamaah Islamiyah Liberal (JIL) sewaktu alm Gus Dur masih aktif menjadi pembicara. Rekan saya bernama M Guntur Romli yang pernah menjadi korban kekerasan Front Pembela Islam, misalnya mengatakan kepada saya, "Islam sempurna jika bisa berdiri bersama agama lain." Indahnya. Walaupun, sejujur, saya pribadi pesimis, mengingat doktrin-doktrin Islam yang radikal yang saya dapatkan ketika saya duduk di bangku SMP (ya, saya pernah mempelajari Islam).


Ngeri. Dengan catatan pemeluk agama Islam terbesar, Pemerintah Indonesia malah tidak mumpuni mengatur mereka yang mengklaim diri mereka Islam tapi kemudian menyakiti sesama. Parahnya, penyerangan serupa juga dialami oleh penganut non-Islam yang hanya karena alasan rumah ibadahnya tidak mengantongi izin bangunan. (Ingat: penyerangan terhadap jemaat gereja Huria Kristen Batak Protestan di Pondok Timur Indah, Bekasi). Hebat memang, cuma Islam di Indonesia yang bisa begini.


Apa yang salah dengan pemeluk Islam di Indonesia? Mari berkaca pada Gus Dur. Mantan Presiden RI yang tidak memiliki penglihatan sempurna itu mampu melihat lebih luas arti kebebasan umat beragama. Bahwa, Kong Hucu adalah hak asasi setiap manusia untuk memeluk agama. Bahwa, Islam bukanlah satu-satunya agama di Indonesia, seperti yang menjadi cita-cita politisi karbitan Amien Rais. Bahwa, keberagaman agama adalah sebagai amanat Bhinneka Tunggal Ika dan mutlak.


Seandainya Gus Dur masih bernafas, mungkin beliau miris menengok cara kebanyakan pemeluk Islam di Indonesia berdampingan dengan penganut non-Islam. Semoga kebajikanmu menular pada kami, cak!