Juni 19, 2011

Traveller's Shoes (2)

Keterlambatan jam penerbangan, dan keputusan mendarat darurat di bandar udara yang bukan tujuanmu memang menyebalkan. Apalagi, jika petugas maskapai penerbangan yang bersangkutan tidak sepenuh hati melayanimu. Lelah, lapar, dan meleset dari apa yang telah kau rencanakan adalah imbas yang tidak bisa dihindari. Tetapi, begitulah hebatnya perjalanan, selalu ada kejutan.

Siak, Pekanbaru
Selang lima hari melancong ke Phuket, Thailand, aku terbang menuju Siak, salah satu kabupaten di Provinsi Pekanbaru. Tak usah disebut lah ya apa yang membawaku kesini. Anggap saja, aku tengah mengunjungi kampung halaman teman seprofesiku, Afni. Anak Siak yang berhasil menyabet gelar Master of Science dan berkarir sebagai jurnalis di ibukota Jakarta.

“Pesawat terpaksa mendarat di bandar udara Polonia, Medan, karena cuaca buruk yang tidak memungkinkan untuk mendarat di tempat tujuan, yakni bandar udara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru,” ujar pilot pada pengeras suara dalam pesawat. Alhasil, badan pesawat yang tadinya sempat menukik turun, kembali mengudara disambut gaduh suara penumpang bertanya-tanya.

Sebetulnya, aku sama paniknya dengan mereka semua. Guncangan yang terasa di dalam pesawat lebih hebat dari yang pernah kurasakan. Hujan lebat dan awan tebal penyebabnya. Sontak aku meremas tangan kiri Afni yang duduk tepat di sebelah kananku. “Af,” lirihku khawatir. Ketakutanku itu tak mendapat respon dari Afni, kecuali membalas dengan wajah datar.

Tepat pukul 22.22 WIB aku dan sekitar 100 penumpang lainnya keluar dari perut pesawat. Ketika itu, tidak ada satu orang pun yang menjelaskan tentang apa yang akan kami lakukan setelah ini. Keputusan petugas maskapai penerbangan sempat menggantung di udara sampai kira-kira 30 menit kemudian kami semua diboyong untuk menginap satu malam di Medan.

Memang sih, fasilitas yang disediakan lumayan membayar lelah kami. Dua hotel berbintang jadi pelabuhan sementara para penumpang, sebagian tinggal di Soechi Hotel-Novotel, sedangkan sisanya bermalam di Hotel Tiara. Aku yang malam itu kandung lelah, sudah tidak sempat mengkritik petugas maskapai penerbangan. Bahkan, Afni yang tak henti mengoceh pun tak kuladeni kali ini.

Pukul 05.30 WIB aku sudah rapih. Hanya mengganti kaus dan menggosok gigi, pagi itu aku sempat menyantap semangkuk sereal. Agak terlunta-lunta sebelum akhirnya pesawat membawa kami kembali ke Pekanbaru. Dan, dengan membawa tas besar seberat bayi kembar, aku tertidur lelap ketika pesawat mengudara. Saking nyenyaknya, sepengetahuanku, aku bangun 10 menit sebelum pesawat mendarat.

Afni yang agak tergesa-gesa dalam melakukan beberapa hal, sudah masuk dalam taksi. Aku menyusul. Dan, taksi tanpa argo itu pun melesat. 20 menit kemudian, kami sudah melantai di rumah kakak ipar Afni. Pria berdarah asli jawa itu dengan ramahnya menawarkan kami beristirahat. Sayang, kami hanya sempat menyantap semangkuk sayur lontong lokal dan bergegas menuju Siak.

Mobil sewaan berwarna telor asin melaju. Aku sebagai pengemudi, dan Afni sebagai navigator. Kami ganti-gantian tukar pengalaman sambil menyusuri jalan selama tiga jam untuk sampai di Siak. Sekali-kali kami hening. Aku menikmati pemandangan jalan di sisi kiri dan kanan, termasuk truk gandar 12 yang terjerembab masuk parit akibat kelebihan kapasitas. Sementara, Afni sibuk bertelepon dan menggunakan pelembap wajah.

Seorang suami istri lansia menyambut kami. Logat melayu yang terlampau kental membuatku kurang memahami apa yang mereka bicarakan. Beruntung, Afni dengan sigapnya memberi penjelasan acap kali melihat jidatku berkerut. Adalah ibu Erma dan bapak Zulkifli dari temanku itu yang barusan memberikan ucapan selamat datang, diikuti oleh empat saudara laki-laki Afni lainnya, Irfan, Hamka, Hatta, dan Fai (semoga aku benar mengejanya).

Ibu Erma menyiapkan makanan untuk aku dan Afni. Menu siang ini, ikan gabus balado plus tempe. Oh, ngiler. Aku pribadi memang suka sekali masakan rumah, makanan kampung atau apalah itu. Aku jadi teringat Kessy, si mbak di rumah yang selalu memasak makanan kampung setiap aku meminta. Biasanya aku minta dibuatkan ikan mujahir, bandeng, atau tongkol, sambal terasi, dan tempe.

Sejak tersesat di Medan kemarin, aku belum sempat mandi. Adalah air sungai Siak. Warna air permandiannya menyerupai lemon-tea, kuning kecokelatan. Jujur, awalnya aku ragu soal kebersihan air disini. Tapi sudahlah, toh warga sekitar mandi dari air sungai kecokelatan itu pun masih berusia panjang dan tidak menderita penyakit kulit. Asal tidak untuk diminum. Maklum, layanan PAM sangat terbatas, masyarakat Siak saja biasa mengandalkan air hujan untuk diminum.

Lanjut crita, belakangan, Ira muncul. Ira, tak lain adalah sahabat karib Afni semasa sekolah di Siak. Karena, aku tipikal orang yang terbuka dan tidak canggung berhadapan dengan orang baru, Ira mendadak menjadi sahabat karibku juga. Kami bertukar cerita, tertawa, menyantap es kelapa (di Siak es kelapa dilarutkan dengan gula pasir) dan menghabiskan sore jelang malam di tepi sungai Siak.

Kembali ke rumah, tahu-tahu ibu Erma telah menyiapkan makanan malam. Dari makan malam itulah, kami mulai berbincang. Mulanya mengenal satu sama lain dengan menanyakan nama, pekerjaan, tempat tinggal. Hingga, pengalaman hidup di Jakarta dan tak ketinggalan tentunya, jodoh. Buat aku yang lajang di usia 28 tahun, obrolan semacam ini seolah menuntut pengakuan dosaku yang terlalu sibuk berkarir.

Semakin malam obrolan semakin serius loh. Agama. Entah kenapa, aku suka sekali memperdebatkan keyakinan atau kepercayaan orang lain. Ujung-ujungnya, seisi rumah angkat suara. Afni dan keluarganya, termasuk Ira merupakan Muslim yang taat. Berbeda sekali dengan aku yang terlahir sebagai Protestan, yang belakangan memilih mempercayai Yesus Kristus tanpa harus memeluk agamanya.

Orangtua Afni itu terkejut mendengar pengakuanku. Mereka mengkritisi caraku berpikir dan memaknai agama. Ah, mereka hanya belum mengenalku. Akulah satu-satunya batu yang tidak akan tumbang menjadi karang dan butiran pasir di pantai. Dalil agama apapun langsung kupatahkan jika moral dan perilaku manusia masih menyerupai binatang. Lupakan! Bukan untuk itu tulisan ini dibuat.

Minggu pagi aku terbangun. Rupanya, aktivitas penghuni rumah yang membangunkanku. Ibu Erma mondar mandir ke dapur memasak. Sedangkan lainnya sibuk mempersiapkan permainan flying fox di halaman belakang. Mana mungkin, aku asyik tertidur di tengah orang lalu lalang di atas kepalaku. Skip this part, langsung saja aku, Afni dan Ira mencari santap pagi. Kami pergi ke pasar, disanalah pusat jajanan enak telah menanti.

Aku memilih mie basah, sedangkan dua perempuan berjilbab ini memilih lontong pecel. Kuliner disini sangat enak. Entah, karena aku sedang doyan makan atau rasanya memang enak. Di restoran yang pemiliknya berdarah Tiong Hoa itu, aku melihat beberapa pengunjung restoran lain mengamatiku. Tampaknya, mereka hafal betul untuk membedakan warga Siak dan pendatang.

Siang hari kami duduk bersama di tepi sungai siak. Aku asyik menulis catatan ini (yang sekarang kalian baca), lainnya mengobrol, dan sisanya bermain di halaman belakang. Aku berkesempatan memainkan daftar lagu favorit di iPod-ku. Aku langsung menyambar pengeras suara dan memutar lagu sekeras-kerasnya. Sangat keras hingga bapak Zulkifli memutuskan untuk mematikan pengeras suara, tanpa mengecilkan volumenya terlebih dahulu, tanpa menekan tombol henti pada iPodku.

Tiba-tiba Afni mendapat pesan singkat. Direktur salah satu operator minyak di Siak meminta dia dan aku untuk datang di perhentian heli di dekat jembatan Sultanah Agung Latifah, jembatan termegah di Siak. Afni tampil cukup rapih, sedangkan aku hanya bermodalkan kaus ungu dan sendal hotel. Sial. Aku terpaksa turun dari mobil menghampiri Afni dan beberapa pejabat daerah dan deputi menteri dari Jakarta yang sedang ber-ramah tamah.

“Kapan aku pulang? Kapan aku pulang, Af?” batinku berteriak.

“Tiket pesawat ke Jakarta terlalu mahal untuk kita kembali ke Jakarta esok, Senin (20/6), Rong!” Afni tiba-tiba berkelakar.

Mati aku! Aku punya pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan di Jakarta. Aku jurnalis untuk harian bisnis dan investasi yang bekerja setiap Minggu sampai Jumat. Tetapi, saat ini juga aku menuliskan cerita ini, aku masih di tepi sungai Siak sambil menikmati es kelapa keduaku sejak menginjak Siak.

Traveller's Shoes (1)

Tak peduli seberapa sesaknya kau mengantri saat boarding pass menuju perut pesawat, perjalanan – apapun tujuannya, selalu berhasil membuatmu tersenyum. Bahkan, kau rela melenyapkan tiga hingga lima bulan gajimu hanya untuk mengongkosi sepekan keberadaanmu ditengah-tengah orang yang tidak kau kenal. Percayalah, kakimu itu cukup pantas memakai sepatu paling nyaman untuk membawamu melangkah ke tempat-tempat indah.


Phuket, Thailand
Aku tidak pernah membayangkan sebelumnya akan melihat kota utama di selatan Thailand ini. Alasannya sederhana, terlalu mahal untuk mewujudkan liburan di tempat syuting salah satu film Hollywood yang dibintangi Leonardo DiCaprio, The Beach. Faktanya, mimpiku jadi kenyataan setelah Oktober 2010 lalu aku mengamini keinginan Igun, salah satu teman perjalananku, untuk membeli tiket promo ke Phuket. Yang diikuti dengan bergabungnya Agha, teman lainnya.

Minggu, 5 Juni 2011, aku menginjakkan kakiku untuk pertama kalinya di Phuket. Selain Igun dan Agha, ada pula Anna dan Ia, dua teman lain yang bergabung pada detik-detik terakhir. Sayang, kami tiba terlalu malam untuk menikmati si cantik Phuket. Alhasil, setelah bersih-bersih di penginapan yang cukup layak disebut hotel untuk harga 200 baht alias Rp 60.000 per orang (1 baht = Rp 300), kami hanya bisa membunuh waktu sebelum tidur dengan menyantap isi gerobak penjaja makanan di depan penginapan.

Nasi ketan, babi bakar, dan sate babi jadi menu pilihan makan malam – telatku ketika itu. Sebetulnya, agak aneh mengunyah nasi ketan di malam hari. Apalagi, dengan lauk babi. Tetapi, kebanyakan gerobak serupa memang hanya menyajikan nasi ketan. Jadi, inilah kuliner Thailand, pikirku. Jelas berbeda dengan nasi ketan yang aku santap di negeri asal, di Jakarta biasanya disajikan dengan tempe, sementara di Medan dimakan dengan pisang dan di Pekanbaru disantap bareng durian.

Tak mau rugi, kami berlima bangun pagi-pagi sekali keesokan harinya, sekitar pukul 8. Cukup pagi bagiku yang hobi bangun tidur di atas pukul 10. Pagi itu kami mengunjungi Karon Beach. Letaknya sekitar 300 meter di belakang penginapan. Garis bibir pantainya cukup pendek, kami menyusurinya dari ujung ke ujung. Pemandangannya yang langka, air laut yang hijau berpadu dengan birunya langit. Banyak pelancong tergeletak santai bak ikan terdampar di atas pasir berwarna kuning gading.

Igun dan Ia tergoda untuk bermain air. Sementara, aku, Agha, dan Anna asyik menonton sambil menyeruput es kelapa. Sampai, langit mendung menyelimuti kami, dan hujan turun, jadilah kami memutuskan untuk kembali ke penginapan. Tak puas dengan aktivitas itu, kami ber”tuk-tuk ria” menuju Patong Beach. Sekitar delapan kilometer dari penginapan. Adalah Jungceylon, gedung pusat perbelanjaan dan hiburan di area Patong Beach yang akhirnya kami kunjungi.

Tapi jangan salah sangka dulu! Kami tidak nge-mal ala anak metropolitan loh. Melainkan menghibur diri untuk menonton film-film box office yang tidak diputar di Indonesia. Sebut saja, Kungfu Panda 2, Pirates of The Carribean 4, dan Fast Furious 5. Bangga bukan main. Maklum, cukup merogoh kocek 80 baht untuk tiket ala nomat, dan 120 baht untuk tiket regular, kami berlima bisa pamer potongan tiket dan cerita seru dari film-film yang dimainkan kepada teman kami masing-masing.

Kemudian, kami juga mencoba makanan dari satu tempat ke tempat lain, dari kelas gerobak sampai kelas restoran. Dan, entah bagaimana, babi dengan sajian yang berbeda-beda, dan Chang Beer (bir lokal) tidak pernah luput dari daftar pesananku. Teman-temanku sempat memprotes pola makanku yang mereka anggap monoton itu. But, i really enjoy it. I really dit.

Tea, begitu kami menyapa Chai (baru belakangan kami ketahui nama sebenarnya) yang menjadi pemandu wisata. Dia melego beragam paket wisata yang menggiurkan, mulai dari Phi Phi Island, James Bond Island, aksi lenggak-lenggok para waria dalam Simon Cabaret, Phuket Fantasea, hingga sewa mobil dan sepeda motor. Yang terakhir tidak menjadi pilihan mengingat tidak satu orang pun yang mengantongi surat izin mengemudi internasional.

Beruntung, Tea alias Chai yang lemah lembut nan pendiam itu menawarkan antar-jemput plus paket wisata harian dengan harga lumayan murah. Jadilah kami menyewa jasanya seharian penuh hanya dengan membayar 1.600 baht. Jumlah itu hasil patungan kami berlima untuk menikmati Big Buddha, kuil-kuil bersejarah, termasuk mendampingi kami wisata belanja.

Phi Phi Island, satu-satunya pulau yang menyihirku. Perjalanan dengan kapal laut berkapasitas 50 orang ini benar-benar membuatku takjub. Lautnya bersih, meski ada juga pemandangan plastik-plastik bekas menjorok ke bibir pantai. Kapal-kapal yang bersandar seolah mencubit lenganku mencoba menyadarkan bahwa aku tidak sedang berada di Ancol, Jakarta. Dan, terutama, pemandangan bule-bule ber-tattoo bertelanjang dada itu loh. They really turns me on.

Aku juga ingat ketika kapal kami berlabuh di Khai Beach. Sejujurnya, pantai ini tidak kalah indah. Malah, batu-batu karang yang menghias separo pulau tak berpenghuni tersebut makin terlihat seksi. Hanya saja, ketika aku beraktivitas snorkling, hanya segerombolan ikan-ikan seukuran jempol tanganku yang ada di alam bawah laut. Lainnya tidak ada. Berbeda dengan yang kutemui di bawah laut di perairan Phi Phi, aku melihat banyak jenis ikan.

Oh iya, adegan yang paling kusuka adalah bagian ketika aku melompat ke laut dari kapal yang kutumpangi. Sederhana saja, mimpiku adalah melemparkan tubuhku ke hamparan air di tengah laut. Tanpa life jacket, hanya bermodalkan kacamata dan alat bernafas, plus bikini dan celana pendek yang kukenakan pastinya. Kau tahu apa yang kurasakan saat air menampar tubuhku? Aku merasa lebih beruntung dari Leighton Meester yang mendadak melejit sebagai bintang serial Gossip Girl.

Menikmati Phuket tidak melulu soal pantai, bikini, atau tabir surya. Jangan lupa, Phuket juga terkenal dengan dunia malamnya yang gemerlap. Pernah mendengar aksi para waria memamerkan lekuk tubuh mereka sebagai penari telanjang? Ah, saranku, matamu harus menyaksikannya sendiri. Karena, sampai hari ini pun, aku tidak menyangka para waria itu berhasil menandingi kecantikan Luna Maya.

Aku dan empat temanku lainnya juga mencicip Ping Pong Show. Menyaksikan mereka (diantaranya terdapat waria) memecahkan balon dengan menembakkan jarum yang ditancap pada vagina mereka. Belum lagi, aksi unik, seperti menghisap rokok lewat vagina, dan bermain bola ping pong (keluar-masuk) melalui vagina mereka. Pertunjukan ekstrem yang dilabel seharga 500 baht ini sungguh menghibur.

Bahkan, lebih menghibur dari malam terakhir yang kuhabiskan di dua kelab malam di Bangla Road. Sedikit cerita, sekitar dua jam berada di Hollywood kuakhiri dengan pertikaian kecil dengan petugas keamanan setempat. Aku mengacungkan jari tengah ke wajah petugas itu. Aku memang temperamental. Tetapi aku juga tidak bisa diam saja melihat arogan wajah tukang jaga kelab tersebut memandang rendah kami, terutama saat Daniel – salah satu teman lokal kami beraksi di lantai dansa.

Februari 10, 2011

Mau Bakar Gereja Lagi? Monggo..

Tulisan ini bermula dari status di akun facebook seorang teman bernama Christine Birong Nababan. Begini bunyinya, "gereja hanya bangunan fisik! sesungguhnya, Tuhan menetap di hati kami masing-masing... monggo, kalo mau bakar gereja lainnya :)".

Ada rasa haru, sekaligus malu menyimak kalimat Birong. Bayangkanlah, Birong tak membalas perlakuan para pembakar gereja itu dengan caci-maki atau bahkan balas membakar rumah ibadah milik para pembakar. Tidak! Birong malah memberi ikon senyum di pungkasan kalimatnya.

Lantaran sikap Birong yang manis itulah, saya dibuatnya malu. Bayangkanlah, dia malah memberi senyum seraya menyilakan kepada perusak gereja untuk membakar gereja lainnya. Kontras benar dengan tayangan video di televisi yang menyajikan tayangan orang-orang yang murka dan membabi-buta, merusak apa saja yang ada di hadapan mereka, termasuk gereja, seperti yang banyak diberitakan oleh media massa. Saya yakin, hati Birong dan saudara-saudara saya yang beragama Nasrani tersakiti oleh peristiwa ini, sebagaimana ketika Zaenal, kawan saya yang Muslim, mendengar kabar di Amerika ada pembakaran Al Quran, di Denmark surat kabar Jyllands-Posten memuat karikatur Nabi Mauhammad SAW.

Sama dengan sikap Birong, Zaenal dan sebagian umat Muslim lainnya juga menanggapinya dengan bijaksana, bahwa yang melakukan tindak penistaan terhadap Islam hanyalah oknum yang tak bertanggung jawab, oknum yang tak memikirkan akibat dari perbuatannya. Perbuatan oknum, jelas bukan gambaran dari keseluruhan. Tentu saja, sebagian ada juga yang marah-marah. Mafhumlah, agama adalah fitrah. Menurut para pakar, di dalam jiwa manusia itu ada enam rasa/potensi, yaitu agama, intelek, sosial, susila, harga diri dan seni. Fitrah sendiri adalah potensi-potensi tertentu yang ada pada diri manusia yang telah dibawanya semenjak lahir.

Terlepas dari musabab meletusnya kemarahan, betapapun setiap agama mengajarkan agar manusia bisa mengendalikan amarahnya sehingga tidak menimbulkan api yang bisa membakar apa saja. Yang jadi soal adalah, kenapa belakangan di negeri ini justru kemarahan senantiasa berujung pada ketidak-warasan akal. Rambu-rambu yang diajarkan oleh semua kitab suci seperti tak berarti apa-apa, demikian juga perangkat hukum yang menjaga ketertiban umum, tak berdaya menghadapi amarah warganya.

Tak terbayangkan, jika amarah sekelompok orang dibalas oleh kelompok lainnya. Tentu persoalan akan bertambah panjang dan semrawut, seperti kerusuhan antarsuku di Kalimantan beberapa waktu lalu.
Entahlah apa yang sedang terjadi dengan bangsa ini. Tapi satu hal, rasanya kita telah kehilangan "cara bertanya" dan "cara menyampaikan pendapat" yang santun, yang dulu dicontohkan oleh leluhur kita.
Dalam keseharian, kerap benar kita menjumpai seorang anak atau remaja yang bertanya begini kepada kita, "Si Polan ada?" Pertanyaan yang dingin dan kaku tanpa menyebut terlebih dahulu orang yang ditanya. "Pak, Bu, Mas, Mba, Si Polan Ada?" Begitu misalnya.

Pun demikian ketika menyampaikan pendapat. Cara-cara berdialog rupanya dianggap bertele-tele. Hajar dulu, urusan belakangan. Dan... bres! Bres! Bres! Setelah semuanya luluh-lantak, setelah semuanya jadi abu, setelah nyawa pegat dari raga, barulah kita ngungun dan bertanya-tanya, betapa telah kelewat jauhnya kita dari yang disebut beradab.

Tapi untunglah, kita masih menyisakan orang-orang baik macam Birong dan Zaenal, serta saudara-saudara lainnya yang senantiasa menjaga akal sehatnya, sehingga tidak gampang tersulut amarahnya oleh sebuah sebab yang bahkan telah melukai fitrahnya.

Birong, Zaenal, dan saudara-saudara kita yang baik tentu masih percaya, akal sehat adalah benteng pertahanan terakhir bagi kejernihan hati. Akal sehat itulah suluh penerang yang memandu manusia mengenal kemanusiaannya. Itu sebabnya, Zaenal tak ikut-ikutan mengumbar amarahnya dengan membalas membakar kitab suci agama lain. Itulah soalnya, Birong masih bisa tersenyum tatkala gereja di Temanggung dibakar.

Terima kasih Birong, untuk senyummu, juga untuk kebaikanmu dengan tidak ikut-ikutan marah. Moga-moga pikiran dan hati kita senantiasa bersih, agar Tuhan tetap tinggal di hati kita sekalian.

Salam damai, untuk kita sekalian.



Jodhi Yudono
http://oase.kompas.com/read/2011/02/09/15070924/Mau.Bakar.Gereja.Lagi.Monggo.

Februari 07, 2011

Yang teriak "Allahuakbar" gak malu apa sama Gus Dur?

Kalau saya jadi presiden, hari ini saya kumpulkan oknum-oknum yang mengklaim diri mereka Islam, yang kerap meneriakkan "allahuakbar," tetapi menganiaya sesama. Saya akan tanya siapa TUHAN-nya? Saya akan tanya apa agama-nya? Termasuk, tempat mereka beribadah. Kalau TUHAN, agama dan tempat beribadah mereka ternyata sama persis dengan teman-teman saya yang Islam, maka saya akan mengajak mereka (Islam) yang tidak menyerang Ahmadiyah untuk berpindah kewarganegaraan.


Karena, Pemerintah Indonesia sudah sangat keterlaluan payahnya menjaga keamanan dan ketenteraman umat beragama di tanah kelahirannya sendiri. Ironis, melihat satu sama lain seperti berlomba-lomba mengucurkan darah mereka-mereka yang tergabung dalam Ahmadiyah. Seolah-olah ingin menegaskan, ada Islam di atas Islam. Dan lucunya, Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono cuma bisa menginstruksikan agar dilakukan investigasi sebab-akibat peristiwa penyerangan Ahmadiyah.


Kalau saya jadi salah satu anggota Ahmadiyah, saya tidak akan segan-segan meminta suaka oleh pemerintah negara tetangga. Malaysia misalnya. Negara produsen teroris itu saja mampu menjaga keamanan umat beragama. Padahal, kita tahu, tidak sedikit warga negara keturunan Tionghoa yang memeluk Budha, atau India yang beragama Hindu. Jangan lupa, sejarahnya, Indonesia pun bukan negara beragama. Contohnya, Parmalim sebagai kepercayaan asli orang Batak dan Wiwitan sebagai kepercayaan asli orang Sunda. Jangan ingkari sejarah!


Saya teringat beberapa diskusi yang saya hadiri dengan teman-teman Jamaah Islamiyah Liberal (JIL) sewaktu alm Gus Dur masih aktif menjadi pembicara. Rekan saya bernama M Guntur Romli yang pernah menjadi korban kekerasan Front Pembela Islam, misalnya mengatakan kepada saya, "Islam sempurna jika bisa berdiri bersama agama lain." Indahnya. Walaupun, sejujur, saya pribadi pesimis, mengingat doktrin-doktrin Islam yang radikal yang saya dapatkan ketika saya duduk di bangku SMP (ya, saya pernah mempelajari Islam).


Ngeri. Dengan catatan pemeluk agama Islam terbesar, Pemerintah Indonesia malah tidak mumpuni mengatur mereka yang mengklaim diri mereka Islam tapi kemudian menyakiti sesama. Parahnya, penyerangan serupa juga dialami oleh penganut non-Islam yang hanya karena alasan rumah ibadahnya tidak mengantongi izin bangunan. (Ingat: penyerangan terhadap jemaat gereja Huria Kristen Batak Protestan di Pondok Timur Indah, Bekasi). Hebat memang, cuma Islam di Indonesia yang bisa begini.


Apa yang salah dengan pemeluk Islam di Indonesia? Mari berkaca pada Gus Dur. Mantan Presiden RI yang tidak memiliki penglihatan sempurna itu mampu melihat lebih luas arti kebebasan umat beragama. Bahwa, Kong Hucu adalah hak asasi setiap manusia untuk memeluk agama. Bahwa, Islam bukanlah satu-satunya agama di Indonesia, seperti yang menjadi cita-cita politisi karbitan Amien Rais. Bahwa, keberagaman agama adalah sebagai amanat Bhinneka Tunggal Ika dan mutlak.


Seandainya Gus Dur masih bernafas, mungkin beliau miris menengok cara kebanyakan pemeluk Islam di Indonesia berdampingan dengan penganut non-Islam. Semoga kebajikanmu menular pada kami, cak!

November 18, 2010

Tak seperti merpati, Bakrie Life selalu ingkar janji

JAKARTA. Asuransi Jiwa Bakrie (Bakrie Life) agaknya harus belajar kepada merpati, yang tak pernah ingkar janji. Maklum, kebiasaan menunggak pembayaran cicilan dana nasabah produk asuransi berbalut investasi Diamond Investa tampaknya sudah akut.

Yang terbaru, Bakrie Life belum juga membayar cicilan pokok ketiga (per September 2010) dan bunga sejak Juli hingga Oktober 2010. "Bakrie Life selalu terlambat bayar," keluh Anggota Tim Penyelamatan dan Pengembalian Dana Nasabah (TP2DN) Bakrie Life Freddy Koeshariono, Selasa (16/11).

Cicilan ketiga atau per September 2010 sebesar 6,25% dari dana setiap nasabah Danamond Investa. Ditambah bunga Juli hingga Oktober, diperkirakan total tunggakan Bakrie Life Rp 33 miliar.

Sebelumnya, pertengahan Oktober 2010 lalu, Bakrie Life sempat menyelesaikan kewajiban sebesar Rp 30 miliar. Namun pembayaran cicilan tersebut tidak berlanjut.

Lagi-lagi para nasabah hanya bisa pasrah seraya berharap Bakrie Life memiliki niat baik menyelesaikan masalah. "Padahal, restrukturisasi pembayaran ini merugikan kami, karena menurunkan manfaat bunga dari 13% menjadi 9,5%,” kata Freddy.

Menurut Anggota TP2DN Bakrie Life Yoseph, kewajiban Bakrie Life yang tersisa masih Rp 290 miliar kepada 250 orang nasabah Danamond Investa dengan nilai investasi di atas Rp 200 juta.

Sebelumnya, Kepala Biro Perasuransian Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan(Bapepam-LK) Isa Rachmatarwata mengatakan, Bakrie Life terlambat membayar cicilan karena belum mendapatkan dana. Menurut Isa, Bapepam-LK sudah melayangkan surat teguran ke manajemen Bakrie Life.

Direktur Utama Bakrie Life Timoer Soetanto menyatakan, Bakrie Lilfe berjanji akan menyelesaikan kewajibannya. “Keterlambatan kali ini terjadi karena dananya masih diusahakan. Mudah-mudahan tidak lama lagi,” kata Timoer kepada KONTAN melalui pesan singkat.

Sekadar mengingatkan, Bakrie Life gagal bayar atas produk Diamond Investa sebesar Rp 360 miliar. Sesuai Surat Kesepakatan Bersama, Bakrie Life menawarkan skema pengembalian dana dengan mencicil, yakni 25% di 2010, dibayar empat kali setiap akhir triwulan sebesar 6,25% dari dana nasabah. Sebesar 25% dilunasi pada 2011 dengan mekanisme serupa. Pembayaran terakhir sebanyak 50% di tahun 2012.

Seperti dikutip dari situs resmi www.kontan.co.id tertanggal 18 November 2011 : http://keuangan.kontan.co.id/v2/read/keuangan/52610/Tak-seperti-merpati-Bakrie-Life-selalu-ingkar-janji

Sweats the small stuff (nasihat bijak si pemalas)

Mendengar judul tulisan ini, mungkin kalian akan berpikir, mengerikan untuk membesar-besarkan hal kecil. Well, sometimes it is work. Maksud saya, tidak ada salahnya kan melihat hal kecil dari kacamata besar. Karena, hal kecil yang mungkin tercecer, kadang memberikan kebahagiaan. You'll never know.


Saya telah melampaui seperempat abad hidup di bawah bayang-bayang orangtua. Akhir tahun lalu tepatnya, saya memutuskan menjadi anak kos. Banyak hal yang hilang, tentunya. Taruhlah, saya tidak bisa seenaknya berganti-ganti pakaian atau boros menggunakan gelas. Saya juga harus menyediakan waktu untuk melakukan pekerjaan rumah, mencuci atau berbenah misalnya. Huf, melayani diri sendiri adalah makanan saya hari-hari belakangan ini. Tidak hanya itu, saya juga harus menyisihkan seperlima dari penghasilan saya setiap bulannya sebagai jurnalis untuk membayar ongkos sewa kamar kos. Belum lagi, memenuhi kebutuhan bulanan untuk perut buncit saya, termasuk ongkos ngebir dua kali dalam sepekan dan mengunjungi rumah kecantikan. Ya, begitulah harga sebuah eksistensi. Tak heran, sepekan jelang hari gajian saya harus menahan liur acap kali melewati kedai es krim favorit.


Tetapi, saya juga tidak bisa menafikan, ada banyak hal yang saya dapatkan. Privasi dan kebebasan. Saya sih tidak tahu apa lagi hal yang lebih menyenangkan dari memiliki privasi dan kebebasan, selain mewujudkan impian meniduri aktor papan atas Hollywood, seperti Adam Broddy, Channing Tatum, atau Paul Walker, tentunya? Bayangkan, kau bisa bertelanjang di atas tempat tidurmu sendiri tanpa khawatir seseorang akan terkaget-kaget saat membangunkanmu di pagi buta. Atau menangis semalaman setelah melihat pria yang kau cintai mengencani wanita yang jauh lebih cantik darimu. It's privacy! Kau juga tidak perlu lagi mengendap-endap masuk lewat pintu belakang rumahmu saat pulang dalam keadaan mabuk. Dan, kau mendapatkan kebebasan untuk menghisap ganja dan menonton aksi lucu Eddie Murphy setelahnya hingga terkencing-kencing.


I've got it all!


Saya menikmati hidup saya. Sungguh. Saya tidak menyangka, berdiam diri di kamar kos seharian hanya dengan mendengarkan daftar lagu favoritmu dengan kualitas suara headset yang oke sambil menyantap semangkuk koko crunch akan se-menyenangkan ini. Saya tidak menyangka, saya mendapatkan hak untuk tidak mandi di hari libur, merokok dalam posisi tidur, memutar empat judul film tanpa henti untuk ditonton semalam suntuk, menulis jurnal tanpa lampu baca, dan tidak ada yang menertawakan wajah tersipu malu saat membayangkan pria incaranmu bertelanjang dada. It's just awesome. Kau hanya menjadi dirimu sendiri tanpa mendengar ocehan yang sama setiap harinya dari wanita tua yang kau cintai saat memperingatimu, "berapa usiamu sekarang, nak?"


Saya menikmati hidup dari balik koran yang dibaca para penggila bisnis dan investasi. Saya menikmati malam-malam melelahkan yang saya habiskan bersama teman-teman fotografer dan komunitas vespa. Saya menikmati mentari sore dengan mengendarai rongsokan tua buatan tahun 1966 milik saya. Saya menikmati sindiran reporter "bau kencur" tentang tulisan ringan saya di situs jejaring sosial (anggap saja, dia hanya iri). Saya menikmati peran saya sebagai pengantar biskuit, masker, atau pakaian dalam ke daerah bencana. Saya menikmati (tidak benar-benar menikmati sih jelang PMS/pre menstruation syndrom) status lajang ini. Well, setidaknya saya tidak bermuram durja seperti penjudi yang kehilangan koin-koin emasnya.

November 10, 2010

Amuk Gunung Merapi, Nyuwun Pangapunten Dumateng Gusti

Sabtu, 6 November 2010, pukul 12.15 WIB saya tiba di Yogyakarta. Kota yang dikenal sebagai gudangnya pelajar ini mendadak berubah menjadi kota penuh debu. Ya, debu vulkanik yang dimuntahkan Gunung Merapi. Persis seperti yang disiarkan di stasiun televisi nasional: hujan debu dengan jarak pandang tidak lebih dari 10 meter.
Ah, saya hanya tidak menyangka saya berada di kota ini, begini. Sedih! Secara pribadi, bagi saya, kota ini menyimpan banyak kenangan. Termasuk, makanan istimewa tentunya. Tetapi, hari ini, saya kira, Yogyakarta hanya akan menyimpan airmata dari ribuan bahkan belasan ribu pengungsi yang terkena dampak amukan Gunung Merapi, isak tangis keluarga yang ditinggal mati korban “wedhus gembel”, dan kotak-kotak tanda simpati dari berbagai kalangan, termasuk dari teman-teman saya di Jakarta.
Sepiring nasi pecel sudah di hadapan saya. Bersama teman-teman dari Jakarta, yakni Eva, Kristina, Opik, dan Ardiles, kami menyantap makan siang di rumah makan sederhana-plus debu tentunya yang terletak di belakang Universitas Gajah Mada (UGM). Enak! Seperti biasanya, makanan yang disajikan di Yogyakarta selalu enak bagi lidah saya. Hanya, saya semakin tidak sabar bermandi hujan debu, berkeliling Yogyakarta.
Koordinasi kami, saya dan teman-teman dari Jakarta memang agak berantakan. Parahnya, kepanikan sudah meremas-remas kepala saya sejak malam keberangkatan. Adalah Kristina yang sama hebohnya dengan saya, dan Eva yang kelewat cuek. Beruntung dua jagoan kami, Opik dan Ardiles bisa diandalkan, menjadi penasehat sekaligus teman semalam suntuk menyetir hampir 12 jam.
Kami melintasi jalan raya Kaliurang (begitu papan jalan yang saya baca ketika melintas) menuju Muntilan, lalu Magelang. Pemetaan lokasi saya buruk, maaf, tapi saya memang membaca beberapa nama wilayah seperti; Mungkid, Muntilan, Magelang. Dan, seperti yang saya bayangkan, hujan debu di lokasi ini lebih lebat daripada Yogyakarta. Gumpalan putih di udara, debu setebal 10 sentimeter yang lengket dengan aspal, dan saya pun terbatuk-batuk setelah lupa menggunakan masker.
Keren!
Selama ini, pemandangan seperti ini cuma bisa saya saksikan di televisi dengan bayang-bayang reporter gagap plus heboh. Serius. Pemandangan langka ini merupakan kali pertama saya berada di daerah bencana, dengan bumbu haru dan bulu kuduk yang tak berhenti berdiri. Kalau pun saya mengabadikan momen di sela-sela kesibukan para pengungsi, dan relawan, semata-mata saya ingin mengabadikan “unhappy moment” ini. So, don’t get offended ya!
Beberapa wilayah yang saya lintasi tampak seperti kota mati. Candi mendut yang baru seumur hidup saya lihat itu tertutup debu putih. Di sepanjang jalan, di kiri dan kanan bahu jalan tepatnya, terpampang jelas pohon-pohon yang kuncup persis payung dalam posisi tertutup, beberapa tanaman mati, dan bangunan rusak, dan aspal jalannya persis arena meluncur-salju di Mal Taman Anggrek.
Di satu titik wilayah di Mungkid, teman saya-Kristina menyebutnya white christmas. Tidak salah! Kota dan seluruh pohon kuncupnya berbalut debu putih-tebal, listrik padam, sepi (karena keramaian hanya berpusat di posko-posko pengungsian) persis seperti menyaksikan kesedihan Ally McBeal melewati malam natal seorang diri.
Di salahsatu posko pengungsian, saya duduk di antara para pengungsi lansia. Mereka menghujani saya dengan pertanyaan, termasuk memaksa saya untuk mendengar pengalaman pahit mereka diusir Gunung Merapi. Saya sabar, mungkin pura-pura sabar. Maklum, 7 jam berdongeng selama Ardiles menyetir, dan 5 jam kemudian gantian saya yang menyetir, saya belum juga merebahkan tubuh barang 10 menit.
Dari satu posko pengungsian ke satu posko pengungsian lainnya, ternyata, adalah pekerjaan berat! Tenggorokan saya mulai terasa kering, dada saya sesak, sepertinya saya menghisap debu vulkanik. Kaki, tubuh, tangan, punggung, semuanya terasa ambruk. Tak heran, saya sempat terlelap pulas sepanjang perjalanan pulang dari posko terakhir menuju penginapan.
Ah, bahkan, Tjokorda (suami Happy Salma) yang rupawan sekalipun, saya kira, tidak mampu meredam keinginan saya untuk istirahat malam itu.
*****
Keesokan harinya, Minggu, 7 November 2001. Saya masih harus menyempatkan diri menyelesaikan kewajiban saya, menulis berita, sebelum bertolak kembali ke Jakarta. Saya duduk di teras depan, cafĂ© tempat penginapan. Saya memandang laptop-pinjaman dan telepon genggam di hadapan saya, sembari menyeruput cokelat panas dan menghisap rokok, saya berpikir, Yogyakarta sekali lagi menyita perhatian kita semua. “Nyuwun pangapunten dumateng gusti”.


Sekapur Sirih. Ikhlas untuk saudara-saudara di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Tetap semangat untuk relawan-relawan. Doa kami bersama kalian.